Warta

Hidup Perempuan yang Melawan: Bukan Hanya Sekadar Sorakan Tetapi Juga Harapan

Idha Aulia Hassanah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UIN Raden Mas Said Surakarta | CO Gender PMII Rayon Ali Akhmad Baktsir. (Foto: Aktivis Autentik)
Aktivis Autentik - Sejarah selalu mencatat bahwa perempuan kerap berada di bawah bayang-bayang tradisi, sistem patriarki, dan diskriminasi sosial. Dalam banyak kebudayaan, perempuan dianggap sekadar pelengkap, dibatasi perannya, bahkan suaranya sering kali dipadamkan oleh sistem yang tidak memberi ruang bagi kesetaraan. Namun sejarah juga membuktikan bahwa di setiap zaman, selalu ada perempuan yang berani melawan. Melawan ketidak adilan, melawan ketakutan, melawan keterbatasan. Mereka bukan hanya melawan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk generasi setelahnya.

Hidup perempuan yang melawan sering kali kita soraki, kita elu-elukan, bahkan kita jadikan simbol kebanggaan nasional. Tetapi yang harus kita sadari, perjuangan perempuan tidak berhenti pada sorakan. Ia bukan hanya tentang seremoni atau peringatan tahunan, melainkan tentang harapan yang nyata, hidup, dan terus bergerak. Sorakan memang memberi semangat, tetapi harapan lah yang menjaga api perjuangan tetap menyala dalam kehidupan sehari-hari.

Kita mengenal nama-nama besar seperti Raden Ajeng Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, hingga Malala Yousafzai. Nama-nama itu selalu hadir di panggung-panggung perayaan, di buku-buku pelajaran, bahkan di monumen perjuangan. Setiap kali Hari Kartini, Hari Ibu, atau Hari Perempuan Internasional tiba, sorakan untuk mereka menggema di mana-mana. Namun, apakah sorakan itu selalu berarti penghayatan? Tidak selalu. Kadang perlawanan perempuan direduksi hanya menjadi simbol atau slogan kosong.

Kartini sering dijadikan ikon busana tradisional setiap bulan April, tetapi gagasan kritisnya tentang kebebasan berpikir dan pendidikan bagi perempuan jarang benar-benar dihidupi. Dewi Sartika diabadikan sebagai pahlawan pendidikan, tetapi semangatnya untuk memperjuangkan akses belajar yang merata bagi perempuan belum sepenuhnya terwujud. Malala dielu-elukan di panggung dunia, tetapi di banyak negara, jutaan anak perempuan masih dilarang bersekolah atau dipaksa menikah di usia muda. Sorakan memang penting sebagai bentuk penghormatan, tetapi jika hanya berhenti di sana, kita berisiko melupakan makna sejati dari perjuangan mereka.

Perjuangan perempuan tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari luka dan keberanian. Di balik setiap kisah perlawanan, ada air mata, ada ketakutan, ada pengorbanan yang tidak selalu diketahui publik. Perempuan yang melawan tidak selalu berbicara di forum internasional atau menulis di surat kabar nasional. Perlawanan bisa sesederhana seorang ibu yang menolak menyerah pada keterbatasan ekonomi dan tetap menyekolahkan anak-anaknya. Bisa berupa seorang buruh migran yang menuntut haknya meski berhadapan dengan sistem hukum yang tidak berpihak. Bisa juga berupa seorang aktivis desa yang menolak diam ketika melihat praktik pernikahan anak atau kekerasan dalam rumah tangga.

Inilah wajah nyata hidup perempuan yang melawan: penuh risiko, penuh luka, tetapi juga penuh keteguhan. Mereka mungkin tidak dikenal dunia, tidak tercatat dalam buku sejarah, tidak mendapatkan penghargaan, namun merekalah pondasi harapan bagi perubahan sosial. Mereka membuktikan bahwa melawan bukan berarti memberontak tanpa arah, tetapi menegakkan kebenaran di tengah ketidakadilan yang sistemik.

Mengapa hidup perempuan yang melawan disebut sebagai harapan? Karena setiap langkah perlawanan mereka membuka ruang baru bagi kesetaraan dan kemanusiaan. Ketika Kartini menulis surat-suratnya, ia tidak hanya memimpikan kebebasan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi generasi perempuan setelahnya. Ketika Malala berbicara tentang hak pendidikan, ia tidak hanya berbicara untuk Pakistan, tetapi untuk seluruh dunia. Dari tangan dan suara perempuan-perempuan inilah, dunia perlahan berubah.

Harapan itu terus lahir, setiap kali perempuan memilih untuk berbicara meski dibungkam, bekerja meski diremehkan, memimpin meski diragukan. Harapan itu tumbuh ketika perempuan memasuki ruang-ruang politik, menulis karya sastra, meneliti ilmu pengetahuan, mengajar anak-anak, hingga menolak tunduk pada budaya yang menindas. Perempuan yang melawan bukan hanya memperjuangkan dirinya, tetapi juga menegakkan nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luas. Dunia yang setara bukan hanya dunia yang adil bagi perempuan, tetapi dunia yang adil bagi semua manusia.

Maka, jangan berhenti pada tepuk tangan. Jangan berhenti pada perayaan atau kata-kata pujian. Dukunglah perempuan yang melawan dengan tindakan nyata: dengan mendengarkan suaranya, membuka ruang partisipasinya, menghargai keputusannya, dan mewujudkan cita-citanya. Karena setiap langkah perempuan yang melawan bukan hanya kisah keberanian, melainkan juga jalan panjang menuju masa depan yang lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih setara.

Perempuan yang melawan bukanlah ancaman, melainkan cahaya yang menuntun. Di tangan merekalah, harapan hidup. Di suara merekalah, masa depan berbicara.

Penulis: Idha Aulia Hassanah, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) UIN Raden Mas Said Surakarta | CO Gender PMII Rayon Ali Akhmad Baktsir.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close