![]() |
| Suriadi Ketua 1 PKC PMII Kalimantan Utara/Foto: Aktivis Autentik |
Aktivis Autentik - Aku tak senang juga dengan cara-cara mendakwa dan menghakimi seperti itu. Namun mar, caramu ini seperti menunjukkan keangkuhan intelektual. Kau seolah merasa mantap dengan pikiranmu. Dengan pengeklusifan itu, terjadi penghinaan kepada kader-kader yang diam-diam dianggap bodoh, dungu, terbelakang dan tolol.
Bukan begitu mbul, ucap unyil
“Tapi...”
Belum sempat unyil berkata, umar langsung memotongnya.
Mbul, di organisasi ini berwujud kelompok-kelompok. Kader-kader yang bersekolah dikalangan modern nan elit disebarluaskan dalam lingkar ketegori kaum terpelajar, sebagai kader patuh dan taat yang mesti diperjuangkan, justru kita inilah yang dianggap terbelakang, dieksklusifkan seperti yang kau sebut tadi – bodoh, tolol, terbelakang, dungu - atau semacam bahaya bagi mereka. Kau boleh saja mengatakan aku memiliki keangkuhan intelektual yang tinggi, namun perlu juga kau ketahui, di kelompok ini keangkuhan itu tidak berdiri sendiri. Ada teman-temannya; keangkuhan ingin kaya dan kuasa.
Unyil menimpali pelan.
“Tidak sampai di situ, masih ada temannya yang lain”
Misalnya keangkuhan kaum beriman. Karena merasa paling dekat dengan Tuhan, paling intens beribadah, rajin ritual, ia gampang juga terpeleset untuk otomatis menganggap orang lain lebih rendah daripada dirinya.
Mereka seberani itu karena disokong dalil dalam kitab suci. Firman Tuhan yang menyebut “orang-orang durhaka”, “golongan yang sesat” atau “kaum yang ingkar” jadi dasar bagi orang-orang yang merasa paling beriman itu otomatis menganggap bahwa yang dimaksud Tuhan pasti orang lain dan bukan mereka.
Senada dengan yang terjadi dalam persepsi PMII. Kita berebut merasa paling, mengejar identitas pengakuan paling dan mengorbit yang bukan paling. Padahal bukan apakah engkau paling atau bukan paling PMII, melainkan apakah pada momentum dan konteks yang berjalan di organisasi engkau berlaku PMII ataukah tidak. Percayalah bahwa pada saat itu, kita sedang bertaruh harga besar, apakah roh PMII dan nilainya meninggalkanmu atau menyelamatkanmu.
Mendengar forum Konfercab akan segera dilaksanakan “Aku berharap terjadi sebuah kisah yang bijaksana, penuh kasih dan mencerahkan untuk era kita saat ini” sambung unyil.
Aku melihat desakan kerinduan kembalinya kejayaan PMII masih sangat embrional. Di kalangan anggota dan kader yang lain, hal ini masih terpendam di bawah sadar, meskipun pada sebagian yang lain ia sudah menjadi kesadaran, bahkan mulai dan selalu diupayakan butir-butir teori dan praktiknya. Kita harus segera berkumpul, terlibat di forum Konfercab. Janin kematian dalam kandungan kerusakan semakin besar. Dengan enteng para tiran masih mungkin mendemonstrasikan kekuasaannya untuk menindas dan mengisap, dan itu menjadi bom waktu.
Mental korup, watak fasis, dan sikap egosentrisme hampir total merambah dan merasuki, bahkan pada mereka yang baru dikader kemarin sore. Gerakan ini tidak bisa ditunda lebih jauh lagi sebagaimana pada dekade-dekade sebelumnya. Mental telah terpeleset, peran serta menjadi eksploitasi, pemberdayaan kader menjadi penciptaan juragan baru, keswadayaan menjadi kapitalisasi kelompok dalam kelompok, dan seterusnya.
Unyil sebagaimana yang kau ucap kemarin “percayalah, sebelum dosis kehancuran itu sampai ke titik optimum, arus balik akan terjadi”.
Arus balik mungkin terjadi dengan beberapa syarat. Kita berpeluang menaklukkan industri informasi yang membelokkan nilai PMII, bukan ditaklukkan (ke-PMII-an, kemanusiaan, iman dan budaya kita) oleh industri itu. Pertama, aku rekomendasikan sebuah wacana agar kita berharap hal yang sama; peta dan tahap mengolah kebenaran logika tersebut terbahas jauh sebelum dan sampai pelaksanaan forum Konfercab PMII Nunukan. Kalau tidak terjadi, maka ongkos yang harus dibayar masyarakat pergerakan di ujung situasi pembusukan organisasi adalah tidak berakarnya nilai PMII, tidak terdapatnya konsistensi antara kata dan kenyataan.
Kita akan semakin menemukan manusia-manusia yang menampilkan dirinya sebagai kaum terpelajar tanpa pernah belajar, sebagai penerjemah bahasa rakyat tanpa pernah merakyat.
Kondisi ini “menyatakan” bahwa pidato ditaburkan setiap saat, gagasan-gagasan disusun dengan lidah, aturan dan pedoman dipaparkan setiap hari. Namun, tidak ada jaminan bahwa ia berakar dan hidup sebagai teori nilai dan kata. Situasi PMII saat ini mencatat, bahwa idiom “akarnya menghujam bumi dan daun-daunnya merambah langit” sangat sulit diwujudkan.
Memang yang layak disebut “kader” hanyalah anggota yang punya kondisi untuk concern terhadap kader dan pengkaderan, bukan karena legalitas pelatihan administratif PKD, PKL itu, melainkan legalitas nilai. Karena ia paling sepadan, bahwa hanya “manusia” yang punya kondisi untuk concern terhadap manusia lain dan kemanusiaan.
Dan umar, betapapun kita menempatkan diri pada sudut posisi kebenaran itu sebagai nilai, kebenaran bagi kita mungkin saja akan berperang melawan kebenaran menurut orang lain. Itu pilihan yang paling tepat, mengungkap kebenaran untuk kebenaran, bukan sebaliknya.
Aku ini pembaca sejarah mbul, ketika kita hanya sanggup diam-diam menilai sejarah dengan cara jujur dan hanya mampu membisu secara jujur pula di tengah pembusukan dan kegelapan organisasi ini, maka narasi pasrah sering kali keluar. Kita biasanya mengucapkan: “kelak sejarah akan menilai”.
Kalau demikian yang terjadi, kapan sejarah akan menilai Mar? Siapa atau apa sejarah itu mbul? Dan apakah sejarah yang kita maksud itu bukan kita ini sendiri? Kenapa pilihan “kita yang menyejarah seolah bukan sejarah?”
Dan kalau semisal masyarakat pergerakan sedang tidak menyepakati untuk menjawab kegelapan itu, maka alternatifnya adalah “terbitnya cahaya” yang hanya bisa ditunggu dengan ucapan Insya Allah.
Bersambung ...
Penulis: Suriadi Ketua 1 PKC PMII Kalimantan Utara.
.jpg)
0 Komentar