![]() |
| Ike Nurul Fitrotus Shoimah, Aktivis Perempuan Lamongan, Demisioner Ketua KOPRI PC PMII Lamongan Periode 2024-2025. (Foto: Aktivis Autentik) |
Sejak awal kelahirannya, KOPRI hadir bukan sebagai pelengkap gerakan mahasiswa, melainkan sebagai subjek ideologis yang memperjuangkan pembebasan perempuan dalam kerangka keislaman yang adil dan inklusif. Di tengah narasi agama yang sering dipersempit oleh tafsir patriarkis, KOPRI menawarkan perspektif alternatif: Islam yang memuliakan perempuan sebagai manusia berakal, berdaya, dan berhak menentukan arah hidupnya.
Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa jalan menuju keadilan gender masih panjang. Perempuan memang semakin terlihat di ruang publik, tetapi belum sepenuhnya aman dan setara. Sepanjang 2025, isu kekerasan berbasis gender, terutama di ruang digital, masih menghantui perempuan muda dan aktivis. Perempuan yang bersuara kritis masih rentan diserang secara personal, direduksi tubuhnya, bahkan diintimidasi melalui media sosial. Sementara di sektor pendidikan, konstruksi sosial yang membatasi mimpi perempuan sebagai “pendamping” bukan “pengambil keputusan” masih terus direproduksi secara halus maupun terang-terangan.
Masalah representasi juga menunjukkan ironi. Secara angka, perempuan di parlemen dan posisi publik mengalami peningkatan. Tapi di balik itu, masih banyak dari mereka yang terjebak dalam struktur politik yang maskulin, sehingga suara perempuan kerap kehilangan substansi dan keberpihakan. Di tingkat akar rumput, aktivis perempuan muda, termasuk kader KOPRI, sering berhadapan dengan tekanan sosial untuk “tidak terlalu vokal”, tidak terlalu berani melawan arus norma tradisional.
Di sinilah KOPRI ditantang untuk menata ulang perannya. Usia 58 tahun seharusnya menjadi titik reorientasi: melampaui seremoni dan menuju kerja-kerja transformasi. KOPRI mesti memperkuat posisinya sebagai ruang produksi pengetahuan perempuan Islam progresif, pusat kaderisasi advokatif, sekaligus jaringan gerakan yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Perubahan konteks sosial menuntut perubahan cara bergerak. Kader KOPRI hari ini tidak cukup hanya paham teori gender dan sejarah organisasi. Mereka harus dibekali dengan literasi digital, kecakapan advokasi kebijakan, kemampuan ekonomi, hingga pemahaman atas isu-isu baru seperti krisis iklim, pangan, teknologi, dan keamanan siber. Perempuan yang kuat hari ini adalah mereka yang mampu membaca perubahan dan memimpin respon atasnya.
Ke depan, agenda gerakan perempuan juga semakin kompleks. Perempuan nelayan menghadapi krisis iklim dan kerentanan ekonomi pesisir. Perempuan petani menghadapi konflik lahan dan ketahanan pangan. Perempuan muda berhadapan dengan eksploitasi digital dan tekanan budaya populer. KOPRI tidak boleh absen di titik-titik ini. Ia harus hadir sebagai penghubung antara realitas akar rumput, dunia akademik, dan ruang kebijakan.
Penguatan basis menjadi kunci. Kaderisasi yang responsif gender harus diterjemahkan dalam praktik nyata, bukan hanya jargon struktural. Sekolah kader perlu menjadi ruang hidup untuk belajar riset, advokasi, komunikasi publik, dan strategi pengorganisasian perempuan. Di saat yang sama, gerakan KOPRI harus lebih terbuka pada kolaborasi lintas komunitas, lintas iman, dan lintas sektor, tanpa kehilangan jati diri ideologisnya.
Lebih dari itu, KOPRI mesti mengokohkan dirinya sebagai gerakan moral. Di tengah pragmatisme politik dan banalitas populer aktivisme hari ini, KOPRI harus berani berdiri sebagai suara etik: membela korban kekerasan, mengkritisi kebijakan yang diskriminatif, dan menghidupkan kembali wacana bahwa keadilan gender adalah bagian dari nilai kemanusiaan Islam.
Perempuan kuat bukan berarti mendominasi, tapi mampu berdiri teguh di atas kesadaran, solidaritas, dan keberanian melawan ketidakadilan. Dan Indonesia baru layak disebut hebat jika setiap perempuan merasa aman untuk bermimpi, bersuara, dan memimpin tanpa rasa takut.
Di usia 58 tahun, KOPRI tak cukup hanya dikenang sebagai organisasi perempuan. Ia harus terus menjelma menjadi gerakan yang mengubah arah sejarahnya sendiri. Dari ruang kelas, ruang komunitas, hingga ruang digital dan parlemen, perempuan KOPRI dituntut hadir sebagai aktor perubahan yang konsisten, berani, dan berakar pada realitas rakyat.
Sebab, hanya dengan perempuan yang berdaya, Indonesia bisa benar-benar melangkah lebih adil.
Tentang Penulis: Ike Nurul Fitrotus Shoimah, Aktivis Perempuan Lamongan, Demisioner Ketua KOPRI PC PMII Lamongan Periode 2024-2025.
.jpg)
0 Komentar