Warta

Menelisik Dialektika Gender: Eksistensi Perempuan antara Emansipasi atau Komodifikasi di Era Society 5.0

Imam Aris Utomo, Rayon Sunan Kalijaga, Komisariat Raden Mas Said, Cabang Sukoharjo/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - Di era serba digital ini, perempuan bisa menjadi CEO, ketua suatu lembaga, aktivis, atau bahkan konten kreator yang viral di TikTok. Dunia tampaknya makin ramah terhadap perempuan atau setidaknya begitu kesannya. Yah, itu pengamatanku saja dari kacamata maskulin. Tapi, benarkah eksistensi perempuan hari ini sepenuhnya bebas dan setara? Ataukah kalian (perempuan) hanya berpindah dari satu bentuk belenggu ke belenggu yang lebih "berkilau"?

Perempuan kini memang punya lebih banyak panggung, di kantor, di dunia maya. Tapi, ruang-ruang itu kadang juga menjadi etalase baru tempat tubuh dan citra perempuan dikomodifikasi. Zaman ini adalah panggung tempat gegap gempita Society 5.0 melenggang dengan percaya diri, di mana teknologi dan manusia menyatu, tetapi di sisi lain, jejak-jejak patriarki masih membekas, barangkali menyamar dalam bentuk-bentuk yang lebih halus.

Dalam pembahasan ini, mari kita telisik bagaimana dialektika gender bekerja dalam membentuk, menantang, sekaligus membingkai ulang peran perempuan. Apakah perempuan benar-benar telah merdeka dari konstruksi sosial lama, atau justru sedang menjalani "emansipasi palsu" yang dikemas canggih oleh zaman?

Perjalanan panjang perempuan dalam memperjuangkan eksistensinya sudah dimulai sejak era kolonial hingga kini, ketika dunia memasuki fase Society 5.0 sebuah era di mana teknologi menjadi bagian dari hampir semua aspek kehidupan manusia. Di Indonesia sendiri, tokoh seperti R.A. Kartini sudah sejak awal menggugat sistem yang menempatkan perempuan sebagai makhluk domestik. Di zaman sekarang, perempuan tak hanya menjadi pekerja atau pemimpin, tapi juga pencipta tren, penggerak sosial, bahkan simbol kemajuan suatu bangsa. Namun, apakah kemajuan ini sepenuhnya benar-benar sudah dimiliki?

Di balik semua pencapaian itu, ada ironi yang kadang luput disadari. Perempuan hari ini memang lebih terlihat, lebih didengar, tetapi juga lebih terekspos dan tidak jarang, lebih tereksploitasi. Banyak ruang digital dan media mainstream yang seolah memberi panggung bagi perempuan, namun sebenarnya hanya menjadikan tubuh dan citra mereka sebagai komoditas. Emansipasi jadi seperti "kemasan" yang rapi untuk menutupi praktik-praktik patriarki versi baru di mana perempuan dianggap maju jika memenuhi standar kecantikan tertentu, punya karier yang gemerlap, dan mampu "menjual diri" secara sosial. Dalam kondisi ini, perjuangan perempuan bukan hanya soal menembus batas, tetapi juga soal menyadari jebakan-jebakan baru yang disodorkan oleh zaman modern.

Maka, yang dibutuhkan perempuan hari ini bukan hanya ruang, tetapi juga kesadaran kritis. Di era Society 5.0 yang menawarkan berbagai kemungkinan, perempuan perlu menjadi subjek yang sadar atas posisi dan perannya bukan sekadar objek dari sebuah sistem yang liar. Pendidikan, literasi digital, dan komunitas yang suportif bisa menjadi senjata penting untuk melawan komodifikasi terselubung ini. Lebih dari itu, masyarakat secara keseluruhan harus ikut membongkar bias-bias gender yang masih mengakar, meskipun bentuknya kini lebih halus. Karena pada akhirnya, emansipasi yang sejati bukan hanya soal bisa tampil di mana saja, tetapi soal memiliki kendali penuh atas narasi hidupnya sendiri.

Perempuan di era Society 5.0 hidup dalam era yang penuh peluang, tetapi juga jebakan. Di satu sisi, berbagai kemajuan memberi akses yang lebih luas bagi perempuan untuk tampil, berkontribusi, bahkan memimpin. Namun di sisi lain, ada realitas sosial yang masih menempatkan perempuan dalam posisi rawan: sebagai simbol, sebagai produk, bahkan sebagai korban dari sistem yang belum sepenuhnya adil. Maka, penting bagi kaum perempuan untuk tidak larut dalam euforia "kesetaraan semu" ini, dan mulai membangun kesadaran kritis bahwa perjuangan perempuan tidak berakhir hanya karena akses sudah dibuka. Justru di situlah tahap baru dimulai yaitu bagaimana membangun eksistensi yang autentik, tidak dikendalikan oleh standar eksternal, dan tidak dimanipulasi oleh kapitalisme berkedok modernitas.

Akhirnya, para perempuan hari ini bukan hanya soal bisa melakukan banyak hal, tetapi juga soal mengerti mengapa, untuk siapa, dan apa yang ingin diperjuangkan. Karena dalam dunia yang terus bergerak ini, suara perempuan bukan sekadar perlu terdengar tetapi juga harus mampu menggema dan mengubah. Sebab perempuan bukan bayang-bayang zaman, tetapi terang yang menuntun arah perubahan. Salam Pergerakan!

Penulis: Imam Aris Utomo, Rayon Sunan Kalijaga, Komisariat Raden Mas Said, Cabang Sukoharjo.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close