![]() |
Hasan Komarudin, Kader PMII Lebak/Foto: Aktivis Autentik |
Perjalanan panjang dalam satu tahun ke belakang menjadi bahan evaluasi. Mahasiswa pergerakan bukan sekadar berorganisasi untuk mencari pengalaman, tetapi juga menjalani proses pembelajaran yang lebih luas. Dalam diskusi, aksi sosial, hingga advokasi yang dilakukan, ada banyak hal yang telah dilakukan dan perlu dipertanyakan kembali: sejauh mana manfaatnya bagi masyarakat, sejauh mana ide-ide besar yang diusung benar-benar membumi, dan sejauh mana kader-kader PMII mampu menjaga marwah intelektualitas dalam gerakan mereka. Idul Fitri menjadi titik balik untuk memperbaiki yang kurang, meneguhkan yang sudah baik, dan merancang masa depan yang lebih progresif.
Kader PMII sering kali menghadapi dilema antara idealisme dan realitas. Dalam diskusi-diskusi yang dilakukan, gagasan besar tentang perubahan sosial sering kali berbenturan dengan situasi di lapangan. Namun, bukan berarti semangat perjuangan harus surut. Justru di hari yang fitri, di tengah kebersamaan dan semangat baru, kader-kader harus semakin yakin bahwa perubahan tidak datang dalam sekejap. Butuh konsistensi, butuh pengorbanan, dan yang terpenting, butuh kesabaran. Sebagaimana dalam berpuasa, ada latihan menahan diri, begitu pula dalam perjuangan, ada saatnya menunggu momen yang tepat untuk bertindak.
Idul Fitri juga mengajarkan tentang kebersamaan dan persaudaraan. PMII bukan hanya sekadar organisasi, tetapi rumah bagi banyak mahasiswa yang memiliki latar belakang berbeda. Ada yang datang dari daerah terpencil, ada yang berasal dari keluarga sederhana, tetapi semuanya berkumpul dalam satu barisan perjuangan. Maka, di hari kemenangan ini, harus ada kesadaran kolektif bahwa persatuan lebih penting daripada ego pribadi. Perbedaan pendapat bukan untuk saling menjatuhkan, tetapi untuk saling menguatkan. Jika ada dinamika yang terjadi dalam organisasi, hari ini adalah saat yang tepat untuk saling memaafkan, menurunkan tensi, dan kembali merajut kekuatan bersama.
Selain itu, Idul Fitri mengingatkan bahwa mahasiswa pergerakan memiliki tanggung jawab besar di tengah masyarakat. Perjalanan intelektual di kampus tidak boleh menjauhkan mereka dari realitas sosial. Justru sebaliknya, ilmu yang didapat harus semakin memperkuat peran mereka dalam memberikan solusi atas berbagai problematika yang ada. Dari isu pendidikan, ekonomi, hingga kebijakan pemerintah yang menyangkut hajat hidup orang banyak, kader PMII harus berada di garis depan dalam menyuarakan keadilan. Idul Fitri adalah momentum untuk mengukuhkan kembali komitmen dalam mengabdi, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat luas.
Di era digital seperti sekarang, mahasiswa pergerakan tidak cukup hanya turun ke jalan atau menggelar diskusi. Media sosial telah menjadi medan perjuangan baru yang harus dikuasai. Narasi tentang keislaman yang rahmatan lil alamin, demokrasi, dan keadilan sosial harus terus digaungkan di ruang-ruang digital. Sebab, di sana pula banyak anak muda mencari referensi dan membangun perspektif mereka tentang dunia. Kader PMII harus mampu hadir di sana, tidak hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor yang berperan dalam membentuk opini publik. Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk menata kembali strategi komunikasi, memperbaiki cara menyampaikan gagasan, dan semakin aktif dalam menyebarkan kebaikan di ruang maya.
Namun, lebih dari semua itu, Idul Fitri adalah hari untuk kembali kepada jati diri. Dalam kesibukan organisasi, dalam berbagai aktivitas yang dilakukan, ada kalanya seseorang lupa untuk merenung tentang dirinya sendiri. Apakah yang dilakukan sudah sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini? Apakah selama ini langkah-langkah yang diambil benar-benar membawa manfaat bagi orang lain? Ataukah justru ada kesalahan yang perlu diperbaiki? Hari kemenangan ini menjadi waktu yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri, mencari jawaban dengan jujur, dan menetapkan langkah-langkah baru dengan lebih bijaksana.
Dengan semangat yang baru, dengan hati yang bersih setelah sebulan penuh berpuasa, mahasiswa pergerakan harus kembali ke medan perjuangan dengan lebih siap. PMII harus semakin kuat, semakin relevan, dan semakin mampu menjawab tantangan zaman. Idul Fitri bukan hanya tentang kembali suci, tetapi juga tentang kembali dengan tekad yang lebih besar untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Penulis: Hasan Komarudin, Sekretaris Rayon Tarbiyah PMII WASFAL 2022 | Ketua 2 Komisariat PMII WASFAL 2023 | Ketua Biro Media & Publikasi PC PMII Lebak 2024.
2 Komentar
Minl aidzin wal faidzin🙏🏻🙏🏻🙏🏻
BalasHapusMinal Aidin wal Faizin
HapusMohon Maaf Lahir dan Batin