Warta

Harlah PMII Ke-65 Ajang Refleksi Organisasi: Dari Daerah untuk Bangsa, Dari Konawe untuk Indonesia

Muhammad Syahri Ramadhan, Ketua Cabang PMII Kabupaten Konawe 2023–2024, Bendahara PKC PMII Sulawesi Tenggara 2024–2026/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada tahun 2025 ini telah menginjak usia 65 tahun. Sebuah usia yang matang bagi sebuah organisasi kemahasiswaan yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama dan semangat kebangsaan para pemuda Indonesia. Harlah PMII ke-65 bukan hanya menjadi ajang seremonial semata, tetapi menjadi momen refleksi untuk menakar kembali arah perjuangan organisasi, merekonstruksi nilai-nilai perjuangan kader, dan memperkuat posisi strategis PMII baik di level nasional maupun daerah. 

Tema “Dari Daerah Untuk Bangsa, Dari Konawe Untuk Indonesia” adalah sebuah penegasan bahwa kontribusi PMII tidak hanya lahir dari pusat, tetapi juga tumbuh subur di daerah-daerah seperti Kab. Konawe yang bisa dikatakan menjadi laboratorium pergerakan dan kaderisasi PMII di Sulawesi Tenggara, bukan tidak mungkin PMII Kab. Konawe telah banyak mencetak Anggota dan Kader terbaiknya, seperti Sahabat Muhiddin Nur, dalam perjalanan karir PMII beliau ia pernah menjadi Ketua PMII Kab. Konawe Masa Khidmat 2011-2012, Ketua PKC PMII Sulawesi Tenggara Masa Khidmat 2014-2017, dan Ketua Kaderisasi Nasional PB PMII Masa Khidmat 2017-2021, ada juga jajaran alumni PMII Kab. Konawe lainnya seperti Sahabat Kamaluddin Ketua PMII Kab. Konawe Masa Khidmat 2017-2018, Wasekjend PB PMII Masa Khidmat 2021-2024, dan sekarang beliau merupakan Staf Khusus (Stafsus) Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), juga ada pula Sahabati Ayu Kusuma Sari Ketua PC PMII Kab. Konawe Masa Khidmat 2019-2020, dan sekarang ia menjadi Wasekjend KOPRI PB PMII Bidang Ekonomi dibawah komando ketua Umum Kopri PB PMII Sahabati Wulansari, dan masih banyak lagi.

PMII: Dari Akar Rakyat, untuk Kepentingan Bangsa

PMII lahir pada 17 April 1960 sebagai respon atas dinamika nasional yang membutuhkan kehadiran mahasiswa Islam yang progresif, inklusif, dan memiliki basis ideologis Ahlussunnah wal Jama’ah. Sejak awal, PMII tidak hanya membentuk anggota dan kader dengan kemampuan akademik, tetapi juga mencetak pemimpin yang memiliki sensitivitas sosial dan keberpihakan terhadap rakyat.

Dalam konteks kekinian, tantangan bangsa tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari internal seperti degradasi moral, krisis kepemimpinan, hingga melemahnya nilai-nilai kebangsaan. Maka, PMII sebagai organisasi kader harus menjadi garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman secara harmonis. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ketua Umum PB PMII 2017–2020, Agus Mulyono Herlambang: “Kader PMII harus menjadi lokomotif perubahan sosial di tengah masyarakat, bukan hanya menjadi penonton dalam dinamika bangsa.”

Refleksi dan Rekonstruksi Gerakan Daerah

Konawe sebagai salah satu wilayah strategis di Sulawesi Tenggara telah menunjukkan geliat pergerakan PMII yang progresif. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, anggota dan kader PMII Kab. Konawe terus membuktikan bahwa semangat intelektual dan sosial tidak terbatas pada ruang-ruang besar metropolitan. Di daerah seperti Konawe, PMII menjadi rumah perjuangan bagi mahasiswa yang ingin berkontribusi nyata untuk masyarakat.

Hal ini senada dengan pernyataan Ketua Umum PB PMII 2021–2024, Muhammad Abdullah Syukri, yang menyebutkan bahwa “Daerah adalah pondasi utama gerakan PMII. Keberhasilan kaderisasi dan pengaruh PMII di tingkat nasional sangat ditentukan oleh soliditas gerakan di daerah.” Maka, sudah saatnya daerah tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam peta perjuangan organisasi.

Dari Konawe untuk Indonesia

Sebagai Mantan Ketua Pengurus Cabang PMII Kabupaten Konawe dan Bendahara Pengurus Koordinator Cabang PMII Sulawesi Tenggara, saya melihat langsung bagaimana semangat kader di daerah terus menyala, meskipun dengan segala keterbatasan. Di sinilah pentingnya membangun narasi besar bahwa peran kader daerah dalam membangun bangsa adalah nyata dan substansial.

PMII Kab. Konawe telah aktif dalam berbagai isu strategis lokal, mulai dari advokasi pendidikan, lingkungan, hingga pembangunan daerah. Kita menyadari bahwa kontribusi kecil di daerah jika dilakukan secara masif dan terorganisir, akan menjadi kekuatan besar dalam pembangunan nasional. Maka, semangat “Dari Konawe Untuk Indonesia” bukanlah slogan kosong, tetapi refleksi atas gerakan nyata yang terus dilakukan anggota dan kader PMII di Konawe.

Penutup: Momentum untuk Konsolidasi Nasional

Harlah ke-65 ini harus dijadikan momentum untuk memperkuat konsolidasi nasional PMII dari bawah. Dari Rayon ke Komisariat, dari cabang ke Korcab, hingga ke pusat. Kita harus mempertegas kembali bahwa kaderisasi bukan hanya formalitas, tetapi proses ideologis dan kultural yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh, kaderisasi merupakan jantung daripada organisasi PMII sedangkan Rayon dan Komisariat merupakan benteng terakhir daripada kaderisasi, begitulah kira kira kata Sahabat Abdullah Syukri pada saat pengukuhan PB PMII 2021-2024.

Sebagaimana dikatakan oleh pendiri PMII, Mahbub Djunaidi, “PMII adalah rumah pikiran, tempat lahirnya gagasan besar.” Maka mari kita jadikan PMII sebagai ruang dialektika, ruang karya, dan ruang perjuangan. Dari Konawe, kita sumbangkan gagasan, tenaga, dan semangat untuk bangsa. Karena PMII bukan hanya tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana seluruh anggota dan kader bergerak bersama untuk cita-cita besar Indonesia.

Penulis: Muhammad Syahri Ramadhan, Ketua Cabang PMII Kabupaten Konawe 2023–2024, Bendahara PKC PMII Sulawesi Tenggara 2024–2026.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close