Warta

Citra Gerakan PMII dalam Semangat Kebangsaan: Mampukah Menyoroti Wajah Politik Indonesia?

Nur Jamilah Ambo, Ketua KOPRI PC PMII Kota Parepare Masa Khidmat 2023-2024/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) hadir menjadi lokomotif semangat kebangsaan. Menjunjung tinggi nilai persatuan, moderasi, dan sikap saling menghargai di tengah keberagaman bangsa. Kiprah PMII sebagai organisasi kemahasiswaan, sejak dulu telah mempertegas Pancasila sebagai asas tunggal organisasi.

Sosio historis kelahiran PMII dilatari oleh semangat revolusi akibat situasi politik nasional. Lahirnya PMII pada tanggal 17 April 1960 sebagai organisasi mahasiswa NU diharapkan mampu mendukung keberadaan partai NU, meski nama NU tidak tercantum pada nama PMII. Ini dikarenakan PMII dapat menjadi organisasi yang dinamis serta terbuka bagi semua golongan.

Penguatan kebangsaan PMII terbukti dengan sikap loyalitas organisasi pada urusan negara. PMII terlibat dalam proses peralihan sistem demokrasi orde lama ke orde baru. Gerakan PMII tahun 1966 memimpin Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan melahirkan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) sebagai perlawanan terhadap kebijakan pemerintah.

Pada tahun 1972, PMII memutuskan untuk independen dari NU dikarenakan sikap politik praktis NU yang dianggap akan menyulitkan PMII sebagai organisasi mahasiswa yang idealis. Pendeklarasian PMII di Munarjati sebagai organisasi Independen bertujuan untuk mendinamiskan perjuangan nasional PMII berdasarkan Pancasila, tanpa khawatir menjadi buronan politik akibat menyokong orde baru.

PMII menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi, Islam sebagai akidah dan Ahlusunnah wal Jamaah sebagai ideologi pergerakan dan pemikiran. PMII berpandangan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan Islam, justru dalam setiap sila Pancasila terkandung nilai-nilai ajaran Islam. Sehingga substansi keislaman tidak akan lekang mesti Pancasila dijadikan sebagai asas tunggal organisasi.

Dalam hal ini, PMII merangkul keindonesiaan dan keislaman dalam bingkai persatuan di atas keberagaman. PMII hadir menjadi tauladan dengan sikap kecintaan dan kesetiaannya terhadap tanah air serta bertekad menjadi nasionalis sejati.

Lantas bagaimana PMII menyikapi kondisi kebangsaan saat ini? Di tengah carut-marut politik Indonesia yang begitu kompleks. Isu dinasti politik, penyalahgunaan kekuasaan, konflik kepentingan, penyimpangan konstitusi, praktik politik oligarki, dan kecurangan demokrasi di Indonesia yang begitu mengkhawatirkan.

Jika menyoroti kondisi tersebut yang begitu dramatis dengan berbagai persengketaan, kader PMII harus mampu mengambil peran strategis. Menjadi tantangan baru bagi kader PMII untuk menjaga stabilitas politik kotor yang terjadi di Indonesia saat ini. Mengingat PMII yang lahir di tengah pergulatan politik dengan gerakan nasionalis.

Terlepas dari kekompleksan politik Indonesia yang sedari dulu selalu goyah, keadaan politik saat ini pun perlu diperhatikan oleh tidak hanya Pengurus Besar PMII, namun juga semua tingkatan kepengurusan PMII lainnya. Kader PMII harus menjadi agen stabilisasi demi terjaganya demokrasi dan politik sehat di Indonesia.

Stabilitas politik adalah kondisi dinamis di mana proses pembagian kekuasaan dalam negara tidak boleh liar dan tidak keluar dari nilai-nilai demokrasi berdasar Pancasila dan UUD 1945. Stabilitas politik menjadi fondasi kemajuan pembangunan ekonomi dan keberlanjutan perdamaian dalam negeri.

Stabilitas politik merujuk pada ketenteraman konflik yang menjadi pemicu kesejahteraan ekonomi berkeadilan. Politik yang sakit akibat kepentingan pribadi dapat menyebabkan penyengsaraan bagi sebagian warga Indonesia di kalangan menengah ke bawah. Hal ini tentunya harus distabilkan agar kaum-kaum berkuasa tidak menindas kaum-kaum lemah.

Untuk menjaga stabilitas politik tersebut, PMII dapat menggunakan peran mahasiswa sebagai sosial kontrol agar dapat mengolah kondisi politik Indonesia. Serta dapat melahirkan paradigma baru yang sesuai dengan kondisi politik saat ini.

Paradigma yang cocok dengan melihat kondisi wajah politik Indonesia saat ini ialah paradigma untuk melawan penguasa. Melihat akar problematika politik terjadi karena adanya kerakusan atas kekuasaan, sehingga menyebabkan kecurangan politik yang menjadikan stabilisasi tidak terkontrol.

Selain itu, fenomena masyarakat Indonesia yang kebanyakan kaum miskin, yang tidak hanya miskin harta tapi juga miskin pendidikan. Pendidikan inilah yang seharusnya mampu PMII tawarkan kepada masyarakat setempat agar tidak mudah dicuci otaknya oleh para penguasa.

Keilmuan PMII mesti dimanfaatkan untuk merangkul masyarakat tak berpendidikan atau kurang berpendidikan, terutama memberikan pendidikan politik kepada masyarakat awam. Literasi politik kadang dianggap sepele namun berdampak serius bagi kelangsungan Indonesia.

Semangat kebangsaan, cinta tanah air, jiwa nasionalis sejati, dan janji komitmen mempertahankan cita-cita kemerdekaan Indonesia harus selalu melekat dalam diri tiap kader PMII. Sehingga perlu penyadaran diri dan melakukan pergerakan dinamis demi terwujudnya Indonesia yang maju tanpa merugikan yang lain.

Penulis: Nur Jamilah Ambo, Ketua KOPRI PC PMII Kota Parepare Masa Khidmat 2023-2024.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close