![]() |
| Lina Setiani, Mandataris Ketua PMII Komisariat Imam Puro Purworejo/Foto: Aktivis Autentik |
Kesetaraan gender bukanlah isu eksklusif feminis, ini adalah isu kemanusiaan. Ini tentang bagaimana keadilan, kesempatan, dan hak didistribusikan secara merata bagi semua gender, tanpa terkecuali. Dalam dunia kerja, perempuan masih menghadapi kesenjangan upah yang signifikan dibandingkan dengan laki-laki. Di politik, keterwakilan perempuan masih sangat terbatas. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, harus mengambil peran aktif dalam menciptakan dunia yang lebih setara. Mereka memiliki akses pada pendidikan, wawasan, dan kemampuan kritis yang dapat menjadi bahan bakar untuk merombak struktur sosial yang masih bias gender.
Tidak hanya itu, aktivis yang sering berada di garis depan dalam memperjuangkan keadilan sosial juga harus lebih mendalam dalam memahami konteks kesetaraan gender, tidak hanya sekadar menggaungkan slogan. Stereotip yang mengakar kuat di masyarakat, yang menempatkan perempuan di ranah domestik dan laki-laki di ranah publik, masih sangat kuat dan menjadi penghalang terbesar bagi kesetaraan yang sesungguhnya.
Melalui kajian yang kritis dan mendalam, mahasiswa dan aktivis dapat memainkan peran penting dalam mematahkan stereotip ini, dan mendorong masyarakat untuk lebih inklusif.
Pada akhirnya, kesetaraan gender bukan tentang mengunggulkan satu gender di atas yang lain, tetapi tentang mewujudkan keadilan bagi semua. Perjuangan ini bukan tugas yang bisa diabaikan, dan mahasiswa serta aktivis memiliki tanggung jawab moral untuk terus memperjuangkannya. Dengan setiap langkah yang diambil untuk mencapai kesetaraan, kita sedang menuju keadilan sosial yang lebih luas, di mana setiap individu terlepas dari ketidakadilan gender dan mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan dihargai.
Sayangnya, isu kesetaraan gender ini sering kali menjadi topik yang menimbulkan perdebatan di kalangan mahasiswa dan bahkan dikalangan para aktivis. Ironisnya, meskipun mereka dianggap sebagai agen perubahan dengan akses luas terhadap pendidikan dan informasi, banyak dari mereka justru tidak sepakat dengan pembahasan isu ini. Fenomena ini menarik untuk dikaji lebih dalam, karena bertentangan dengan ekspektasi bahwa mahasiswa, sebagai generasi intelektual, seharusnya lebih progresif dalam menerima gagasan-gagasan kesetaraan.
Ada beberapa alasan mengapa sebagian mahasiswa menolak pembahasan kesetaraan gender. Salah satunya adalah pandangan bahwa isu ini telah berlebihan, atau bahkan “terlalu politis.” Beberapa mahasiswa menganggap bahwa fokus pada kesetaraan gender sering mengesampingkan permasalahan lain yang mereka anggap lebih penting, seperti ekonomi atau politik. Mereka juga merasa bahwa perjuangan ini telah terlalu banyak memihak satu gender saja, dan dalam beberapa kasus, menilai bahwa laki-laki justru menjadi korban dari gerakan tersebut. Perspektif ini sering muncul dari kurangnya pemahaman mendalam mengenai konsep kesetaraan gender itu sendiri, yang seharusnya tidak memihak, melainkan menuntut keadilan bagi semua gender.
Ada juga faktor budaya dan agama yang kuat memengaruhi penolakan ini. Banyak mahasiswa yang merasa bahwa pembahasan mengenai kesetaraan gender bertentangan dengan nilai-nilai tradisional yang diajarkan sejak kecil. Peran gender yang sudah tertanam dalam Masyarakat, di mana perempuan diasosiasikan dengan ranah domestik dan laki-laki dengan ranah public, membuat banyak dari mereka sulit menerima ide bahwa peran-peran ini bisa dinegosiasikan atau bahkan diubah.
Namun, penolakan ini justru menekankan pentingnya terus mengkaji dan memperdebatkan isu kesetaraan gender di lingkungan kampus. Mahasiswa yang menolak gagasan ini seharusnya diposisikan bukan sebagai musuh, tetapi sebagai kelompok yang perlu diajak berdialog secara terbuka. Pendidikan gender di kampus tidak boleh bersifat dogmatis, melainkan harus membuka ruang bagi diskusi kritis di mana semua pandangan dihargai, namun juga dilengkapi dengan data, fakta, dan analisis yang mendalam. Melalui dialog ini, mahasiswa yang awalnya menolak mungkin bisa memahami bahwa kesetaraan gender bukanlah ancaman terhadap nilai-nilai mereka, tetapi sebuah usaha untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil bagi semua.
Pada akhirnya, penolakan terhadap pembahasan kesetaraan gender oleh mahasiswa adalah cermin dari kompleksitas isu ini sendiri. Bukan hanya sekadar soal ketidaksetaraan yang harus dipecahkan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa menciptakan ruang diskusi yang inklusif, di mana perbedaan pandangan dihargai namun tetap diarahkan menuju pemahaman yang lebih komprehensif. Ini adalah tugas mahasiswa dan aktivis untuk terus memperjuangkan, meskipun tantangan datang dari dalam lingkungan intelektual itu sendiri. Kesetaraan gender adalah perjalanan panjang yang menuntut komitmen, dialog terbuka, dan pemahaman mendalam.

0 Komentar