Warta

PMII dan Tantangan Society 5.0: Menuju Era Manusia Super Cerdas

Hafidz Fatur Rahman (Ketua Biro Kajian Keagamaan dan Isu Strategis PMII Komisariat Universitas Lampung)/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - Tulisan ini saya buat untuk menyambut Kongres PMII ke XXI di Palembang pada 12 - 14 Agustus mendatang. Tulisan ini bukan atas tanpa dasar apapun, tetapi karena atas dasar rasa kecintaan pada PMII sebagai rumah intelektual kader muda Nahdlatul Ulama. 

Era globalisasi, revolusi industri 4.0, serta society 5.0 telah kita lalui bersama dan sedang kita rasakan hingga kini. Diantaranya tersebut hampir tidak lain adalah proses hilangnya batas-batas geografis akibat perkembangan teknologi, baik itu informasi, transportasi, dan komunikasi yang berkembang sangat pesat. Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa hal tersebut merupakan suatu kebutuhan alamiah manusia dan ini adalah sebuah keniscayaan.

Bagaimanapun akan menguntungkan siapa pun yang sejatinya menguasai 3 pilar di atas tersebut. Karena hal ini juga, dapat dipastikan ada suatu proses marginalisasi individu, komunitas, kelompok, atau bahkan suatu bangsa akibat tidak menguasai pilar inti society 5.0 tersebut.

Saat ini, telah mencapai pada tahap fase mutakhir yang disebut dengan society 5.0. Era ini merupakan kelanjutan dari fase perkembangan manusia dari era berburu dan meramu, masyarakat agrikultur, industrialisasi, serta informasi.

Society 5.0 ini mengusung konsep untuk menciptakan Manusia Super Cerdas (MSC) dengan memanfaatkan perkembangan teknologi. Konsep ini pun dicetuskan di Jepang pertama kali pada 2015 silam. Tidak seperti revolusi industri 4.0, lokus utama yang dibahas society 5.0 tidak serta-merta ke arah bisnis, akan tetapi merujuk pada fokusnya untuk mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif, sustainability, serta lebih manusiawi dalam memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI), robotika, serta teknologi maju lainnya. Dengan demikian tentunya dampak yang dihasilkan dari society 5.0 cakupannya akan lebih luas. Sejumlah dampak tersebut tentunya berkaitan dengan peningkatan sistem pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup.

Dalam situasi yang demikian, sebagai warga Nahdliyin atau NU, tentunya mendapat tantangan besar, karena pada society 5.0 ini akan membutuhkan sumber daya manusia yang unggul sehingga ke depannya akan bisa mengolah sumber daya alam yang terbatas ini. Sementara itu, sebagian warga Nahdliyyin adalah dari kalangan pesantren.

Secara demograsi dan kultur sosial, kebanyakan warga Nahdliyin merupakan masyarakat pedesaan yang tentunya masih lekat dengan nilai dan kearifan lokal, pun secara ekonomi juga bergantung pada sektor pertanian, kelautan, atau lainnya. Tentu dengan revolusi industri dan society 5.0 ini bukan semata-mata peluang, akan tetapi bisa juga sebagai ancaman marginalisasi. Oleh karena itu, keberadaan kelas menengah pada warga NU patut kita perhatikan agar warga NU yang melabuhkan harapan pada jamiyyah NU dapat terorganisir dengan baik.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau dikenal dengan nama PMII merupakan salah satu organisasi yang terlahir dari rahim NU, dan ini tentunya PMII secara historis adalah anak kandung dari NU, ini tak bisa dipungkiri. PMII berdiri dengan sejarah panjang dan latar belakang yang tentunya karena keresahan bersama karena pada saat itu kurangnya tersampaikan aspirasi kader NU dengan baik. Dengan dasar tersebut, 13 orang pendiri dengan gagah berani dan didahului dengan jalan tirakat panjang, berhasil mendeklarasikan PMII pada 17 April 1960 sebagai wadah kader muda NU utamanya untuk para mahasiswa di kampus. Selain itu juga, untuk menghimpun para mahasiswa NU untuk bersama menguatkan faham ahlusunnah wal jamaah.

Arah perjuangan PMII tentunya harus sejalan dengan arah perjuangan Nahdlatul Ulama, yaitu menyinergikan sosial keagamaan dengan kemampuan IMTAQ dan IPTEK. Beberapa hal penting perlu dipikirkan bersama oleh para kader muda NU yang tergabung dalam rumah besar PMII untuk senantiasa menjadikan PMII sebagai rumah intelektual unggulan menurut pandangan saya sebagai kader PMII yang berproses dan berprogres di akar rumput yakni:

1. PMII sebagai organisasi kader harus senantiasa memperkuat dan memperhatikan proses dan sistem kaderisasi dengan meriset ulang konsep yang meliputi kurikulum serta praktik kaderisasi dengan mengadaptasi perkembangan yang terjadi di tubuh Jamiyah Nahdlatul Ulama, ataupun bahkan kecenderungan terhadap perubahan global, nasional, ataupun yang sifatnya lokal, khususnya yang diakibatkan oleh revolusi industri 4.0 dan society 5.0

2. PMII harus memperkuat penggunaan kemampuan kadernya guna penguatan dan penguasaan instrumen revolusi industri dan society 5.0 baik pada jaringan internet ataupun big data, untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap terkait perkembangan situasi global ataupun nasional agar menjadi pertimbangan dan rekomendasi dalam perencanaan bidang internal (kaderisasi dan kelembagaan) serta bidang eksternal (respons sosial dan jaringan) sebagai bagian dari perjuangan PMII dan khidmatnya pada jamiyah dan jamaah NU khususnya, dan bangsa Indonesia dan agama Islam secara umum.

3. Era revolusi industri dan society 5.0 ini tentunya memudahkan para mahasiswa utamanya kader PMII dalam menyusun strategi penyebarluasan isu-isu strategis yang bersifat global, nasional, ataupun lokal. Dengan kemajuan teknologi ini, PMII harus lebih cepat merespons masalah kerakyatan yang muncul pada akar rumput untuk ke depan bisa disampaikan kepada pengambil keputusan dan pemangku kebijakan serta pihak lain yang terikat. PMII harus menyatakan keberpihakannya kepada Amanat Penderitaan Rakyat dan kaum mustadh'afin dengan melakukan kerja yang sifatnya pendampingan kepada masyarakat yang termarginalkan, pesantren-pesantren, lembaga pendidikan, serta masalah yang dirasakan masyarakat yang berada diakar rumput.

4. PMII harus senantiasa dapat merebut narasi dan wacana keislaman yang beredar di masyarakat, baik melalui forum seminar, diskusi, pengajian, ataupun dialog secara langsung di media digital dan dunia maya. PMII harus dengan teguh membawa nilai dasar keislaman ahlussunnah wal jamaah dalam merespon isu dan berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini dengan menghadirkan sikap dan prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, i'tidal serta Nilai Dasar Pergerakan dalam bersikap dan bertindak.

5. PMII harus menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya agamawan, intelektualis, aktivis, yang mampu membawa spirit ahlussunnah wal jamaah dalam bingkai kebangsaan dalam seluruh lini kehidupan. Perlu diyakini bahwa dari wadah inilah ke depan para pemimpin Indonesia ataupun pemimpin di Nahdlatul Ulama akan dilahirkan.

Beberapa agenda tersebut dirasa penting direalisasikan oleh ketua umum PB PMII terpilih mendatang untuk tetap memastikan bahwa PMII senantiasa berpihak pada amanat penderitaan rakyat dan tetap eksis membersamai masyarakat yang termarginalkan, masyarakat kalangan bawah, serta dapat terus bergerak bersama di dalam Jam'iyyah Nahdlatul Ulama dalam menghadapi Abad kedua Nahdlatul Ulama, di  usia PMII yang juga menginjak 64 tahun ini. Pemimpin terpilih harapannya yang akan membawa peta peradaban dengan mengusung beberapa nilai tersebut.

Penulis: Hafidz Fatur Rahman (Ketua Biro Kajian Keagamaan dan Isu Strategis PMII Komisariat Universitas Lampung).

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close