Warta

Teriakkan Kebenaran, Suara Idealisme Pemuda Menggema Lawan Ketidakadilan

Al Ahmadi, Kader PMII Pacitan/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - Tan Malaka menyebut, kemewahan terakhir seorang pemuda ialah gagasan, semangat dan harapan untuk membuat dunia menjadi lebih baik, alias Idealisme. Idealisme pemuda ini seringkali diwujudkan dalam bentuk aksi-aksi nyata untuk melawan ketidakadilan dan perbaikan tatanan sosial.

Naga-naganya, rasa empati hadir setelah semua rasa inderawi turut merasakan kesengsaraan. Empati inilah yang menjadi awal kesadaran kalian sebagai agen perubahan, kontrol sosial.

Jangan biarkan diksi protes, kritik, atau bahkan kemarahan tersumbat. Ekspresikan kemarahan kalian melalui bahasa apa pun yang kalian inginkan, karena penguasa tidak akan pernah mau mendengarkan ucapan halus.

Kalian tidak perlu menjadi ahli debat untuk melawan orang-orang birokrat. Para pejuang kemerdekaan Indonesia pun banyak yang hanya bermodalkan pamflet dan selebaran untuk ditempelkan di jalan-jalan.

Bahkan, mereka hanya bermodalkan bambu runcing dan rapalan doa. Merekalah pejuang-pejuang tak bernama yang sama gigih dan beraninya terus menyuarakan keadilan menolak penindasan.

Dalam struktur kekuasaan selalu ada Firaun, Qarun, Haman, dan Balam. Firaun adalah kekuasaan yang menindas (menjajah), karena Firaun juga membangun infrastruktur dan proyek-proyek mercusuar seperti piramid dan sphinx, yang hingga hari ini masih berdiri.

Tak perlu seangkuh Firaun untuk menjadi seperti dia. Seorang penguasa dikatakan sah sebagai figur tersebut, bilamana banyak berbohong dan umbar janji. Jika janji dan pencapaian tak sesuai, berarti itu merupakan bentuk kebohongan.

Setelah Firaun, teman-temannya adalah Qarun, kaum kaya raya yang selalu mendapatkan keuntungan dari kekuasaan itu. Tentu semua tahu, menteri-menteri Firaun adalah saudagar yang kaya raya.

Lalu ada Balam, seorang agamawan yang menggunakan otoritas dan teks teologis untuk membenarkan kekuasaan yang korup. Terakhir, adalah Haman, seorang intelektual yang cerdik pandai, namun ia menggunakan literatur apa saja demi melanggengkan kekuasaan yang ditumpanginya.

Untuk itu, gugatan kepada kaum intelektual yang berada di garis menyimpang adalah sah. Karena, ia yang ingkar menggunakan kecerdasannya lebih pantas disebut sebagai pengkhianat intelektual.

Kemudian, untuk intelektual yang tak peduli dengan realitas sosial dan berdiam diri tak berguna ialah intelektual menara gading.

Namun, jika dirinya menjual diri dan kepandaian untuk mengabdi pada kekuasaan yang zalim dan tidak mengabdi untuk kemakmuran rakyatnya. Maka, ia adalah pelacur intelektual. WS Rendra menyebut itu sebagai ‘Intelektual salon’.

Diketahui, pemerintahan yang dipilih secara demokratis tidak berarti bebas dari kesalahan, selalu benar, atau anti dikritik. Justru sebaliknya, pemerintahan sipil demokratislah yang paling berpeluang berbuat kesalahan atas nama legitimasi mayoritas.

Demokrasi akan menjadi sistem yang bobrok jika hadir melalui penguasaan gerombolan pemilik akses dan previlege tanpa ideologi. Para pakar berpendapat, bahwa demokrasi tanpa penegakan hukum adalah kekacauan dan anarkis.

Sejatinya, demokrasi memiliki parameter utama, yaitu penegakan hukum, keadilan hukum, dan perlindungan hukum. Kendati demikian, rezim selalu bisa memuluskan kepentingan dengan cara mereka sendiri, tetapi rakyat kudu bersimbah darah demi itu.

Zaman kian maju. Kebobrokan penguasa makin dipertontonkan kepada rakyat tanpa malu, seolah rakyat tengah tutup mata, tutup telinga. Yakinlah, bahwa kekuasaan sekecil apapun pasti dapat membuat orang terlena, oleh karenanya kaum intelektual hukumnya haram jika memilih diam.

Adik-adik pergerakan, yang kami banggakan.

Sorak-sorailah kalian dengan makian-makian, gembirakan hati rakyatmu karena pembelaanmu atas kejumudan kaum agamawan, lacurnya intelektual, dan serakahnya kaum saudagar penopang rezim. Banyak yang terbukti, berupa ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan.

Adik-adik pergerakan angkatan baru di manapun kalian berada.

Kalian tentu memiliki ukuran sendiri yang tidak dapat angkatan tua tirukan. Baju yang lusuh tua yang dipakai angkat dulu sudah usang, tak sekece model era kalian. Cara dan taktik model dulu pun sudah terlalu kolot untuk kalian.

Namun yang perlu ditanamkan adalah, kalian adalah tuan rumah di negeri ini. Kalian adalah pemilik sah rumah Indonesia, disini kalian bukan turis. Jangan kalian mau berunding dengan maling. Karena tuan rumah tak bakal menggelar rapat dengan maling.

Kalian harus waspada, karena maling itu bisa saja tetangga, bahkan saudaramu sendiri yang mengambil hakmu secara zalim.

Rumah kalian adalah Indonesia yang bhinneka. Pesan Ismail Marzuki dalam syairnya, Ibu pertiwimu sejak lama menangis, ambillah kalian pesan suci itu untuk generasi baru.

Sudah waktunya kalian yang menggantikan. Angkatan tua pernah ada, hanya sekadar menjatuhkan kekuasaan otoritarian. Namun tak mampu menjaga tanah air kalian yang subur dan kaya raya dari para perampok dan pencoleng.

“Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati

Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang

Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan

Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti

Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu

Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia

Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa,“ syair karya Ismail Marzuki.

Usia kian menggerogoti tiap generasi dengan sakit dan kemiskinan. Harapan dalam setiap nafas pergerakan akan selalu hadir. Demi pemerintahan yang mensejahterakan dan berkeadilan.

Kami percaya generasi selanjutnya masih ada, itulah perjuangan. Sutan Syahrir berkata “Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan,”. (*)

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close