![]() |
| Gusram Rupu, Ketua Kaderisasi PMII Komisariat Wahid Hasyim, Cabang Kota Gorontalo/Foto: Aktivis Autentik |
Politik dan Kebijaksanaan
Seperti halnya cinta, politik adalah senyawa purba yang mendiami inci paling kecil dalam otak kiri manusia. Mempengaruhi perkembangan, menjamin perubahan, meyakini kawan, mengincar lawan, memberi bahagia, juga derita tiada tara.
Ruas-ruas determinasi itu akan diisi dengan berbagai macam cara. Jika di era perburuan, laki-laki dan perempuan tak perlu waktu lama untuk bersepakat hidup bersama sebagai sepasang suami-istri. Cukup dengan menyeimbangi tugas-tugas, termasuk dalam hal pelayanan hasrat. Begitu pula pada era revolusi hijau, penemuan teknikal, hingga pada hight teknologi, informasi dan komunikasi. Namun, mekanisme yang diterapkan berbeda, tujuannya tetap sama, menjalani biduk rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah.
Sepada dengan politik, kesepakatan-kesepakatan perlu dibangun, komitmen adalah fondasi utama dalam mengokohkan misi pergerakan. Pengetahuan-pengetahuan tentang politik juga telah lama di sajikan Plato dan Aristoteles. Dengan definisi, dengan taktik, dengan referensi yang tak semua sama, untuk melahirkan sebuah kekuasaan, baik kekuasaan terhadap pikiran, terhadap realitas, terhadap refleksi aktualisasi.
Kekuasaan bisa membuat siapa saja menghalalkan cara apa saja. Dalam sejarah perang antar Athena dan Persia. Perang antar Athena dan Thebes. Juga perang dendam antar Sparta dan Athena yang melahirkan sekutu antar Sparta dan Thebes. Kemudian pengkhianatan Sparta terhadap Thebes yang menjadikan kekalahan terbesar Sparta. Darah, air mata, keluarga, dan perempuan menjadi bagian strategi penting dalam peperangan. Karena dendam lama dan pengkhianatan, mengantarkan kepala Leonidas, sang raja Sparta harus bergelantung diatas gunung Thermopilay.
Begitulah politik, banyak melahirkan konjugasi-konjugasi baru dengan cara menyembunyikan variabel X. Variabel kebenaran yang hanya bisa dipecahkan dengan cinta dan kebijaksanaan.
Instrumen Politik PMII
PMII yang latar belakangnya lahir dari hasrat kuat kaum mahasiswa nahdliyin dan juga lahir dari carut marutnya situasi politik pada masa lampau tentu telah mengalami banyak dinamika dan tantangan sampai saat ini sebagai organisasi kaderisasi, PMII juga menjadi dimensi gerakan para kadernya untuk eksis dalam dinamika kehidupan kampus. Kedua hal ini tersentral pada terbentuknya kader yang Ulul Albab, dimana seorang kader haus akan ilmu pengetahuan, menjadi bagian dari masyarakat, menyatakan keberpihakannya kepada kepentingan kolektif.
Sebagai tempat penempaan diri, kata cak Imam Nahrawi, PMII selalu menjadi organisasi lokomotif gerakan sosial, civil society. Oleh karena itu PMII menjadi tempat yang banyak digandrungi para kalangan, terlebih mahasiswa. Dalam ilmu pengetahuan sosiologi, organisasi atau komunitas sekecil apapun yang hadir dalam realitas kehidupan baik masyarakat maupun mahasiswa adalah sebagai instrumen, bahkan gerakan politik. Tentu banyak adagium seseorang mengistilahkan politik sesuai dengan persepsinya masing-masing. Disebabkan sosio-kultur setiap orang menentukan terhadap gerak derap dan penggunaan nalar mereka.
Ada yang memaknai politik sebagai adanya gerakan anarkis, maka bisa dianalisa bahwa lingkungan mereka sedang tidak stabil. Baik dalam struktur bahasa maupun penyapaan sikapnya kepada lingkungan. Ada pula yang memaknai politik sebagai bagian dari dinamisasi kehidupan. Maka dari itu, siapa pernah menyangka ada ribuan bahasa yang keluar dari penafsiran setiap orang dan tidak pernah sama, memaknai politik sesuai dengan persepsi. Membandingkan politik persepsi dengan politik ideal. Akan panjang pembahasannya, dan perdebatan ini kunjung tidak selesai.
Moralisme Organisasi
Sebagaimana dirilis di media mojok.co, China dikenal dengan ajaran moral. Dimulai dari persoalan kecil tentang menghormati keluarga yang telah meninggalkan kita, sampai soal krusial tata kenegaraan seperti pola-pola pemimpin yang dan seperti apa kriterianya.
Selanjutnya, “Jangan pernah meminta kepada PMII, tapi dedikasikan dirimu untuk PMII”, ini kemudian menjadi prinsip bagi setiap kader untuk senantiasa tetap kita ingat dan selalu kita jaga.
Moral adalah bagian dari politik, tentu bagian dari tercapainya demokrasi yang baik. Disinilah letak pentingnya moral pada kehidupan organisasi, sebagai pelaksana gerakan intuitif dari seluruh kader bagaimana menghadapi kehidupan sosial yang terus dinamis.

0 Komentar