![]() |
| Membaca Realitas Kampus, Merawat Kader, dan Menyusun Strategi Kaderisasi Berkelanjutan PMII Jakarta Selatan. (Foto: Aktivis Autentik) |
Semangat tersebut menjadi pijakan dalam Safari Kaderisasi Goes To Komisariat UNINDRA yang dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026. Safari Kaderisasi menjadi ruang silaturahmi sekaligus ruang dialektika untuk membaca kondisi kaderisasi secara lebih dekat dengan realitas yang dihadapi komisariat.
Mengusung semangat pergerakan, kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana mencari kader, tetapi juga mempertanyakan bagaimana kader dapat ditemukan, dibentuk, dirawat, dikembangkan, dan dipersiapkan menjadi penerus organisasi.
“Kaderisasi tidak boleh berhenti pada diskursus normatif. Ia harus berangkat dari realitas, membaca kebutuhan kader, dan melahirkan strategi yang mampu menjawab tantangan zaman,” kata Reipuri Al Ayubi, Koordinator Kaderisasi PC PMII Jakarta Selatan.
Dari Khittah Perjuangan Menuju Pembacaan Realitas
Berpijak pada Nilai Dasar Pergerakan (NDP) serta komitmen tri khidmat kader PMII—zikir, pikir, dan amal saleh—kaderisasi perlu ditempatkan sebagai proses yang memiliki orientasi pembentukan manusia dan transformasi sosial.
Karena itu, Safari Kaderisasi bukan sekadar agenda kunjungan dari satu tempat ke tempat lainnya. Safari ini menjadi momentum untuk melihat langsung realitas kaderisasi di komisariat, mendengarkan pengalaman kader dan pengurus, sekaligus menemukan persoalan yang selama ini mungkin belum terpetakan.
Kaderisasi membutuhkan keberanian untuk bertanya, siapa calon kader kita? Apa yang mereka butuhkan? Mengapa mereka tertarik bergabung? Mengapa sebagian kader kemudian tidak aktif? Dan apa yang harus dilakukan organisasi agar kader tetap memiliki ruang untuk bertumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam membaca masa depan kaderisasi PMII.
Membaca Antropologi Kampus UNINDRA
Setiap kampus memiliki karakter mahasiswa yang berbeda. Begitu pula dengan lingkungan Komisariat PMII UNINDRA.
Dalam pembacaan awal, mahasiswa di lingkungan kampus memiliki latar belakang dan aktivitas yang beragam, mulai dari pendidik atau guru, pekerja, pembisnis, mahasiswa yang aktif dalam kegiatan keagamaan, hingga mahasiswa yang sedang mencari peluang pekerjaan.
Keragaman tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang dalam kaderisasi. Kaderisasi tidak bisa menggunakan satu pendekatan untuk semua orang. Mahasiswa yang bekerja memiliki persoalan waktu yang berbeda dengan mahasiswa yang fokus pada aktivitas akademik. Mahasiswa yang memiliki usaha memiliki kebutuhan berbeda dengan mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan.
Maka, mengenali karakter mahasiswa menjadi langkah awal sebelum menentukan strategi kaderisasi.
Dari Mencari Kader hingga Merawat Kader
Salah satu persoalan utama yang dibahas adalah bagaimana melakukan perekrutan kader secara efektif. PMII perlu kreatif dalam mencari calon kader, baik melalui pendekatan personal, kegiatan kampus, media sosial, maupun ruang-ruang interaksi mahasiswa.
Dalam konteks ini, konsep Bauran Pemasaran 4P dapat digunakan sebagai cara membaca strategi perekrutan.
- Product: PMII perlu mampu menjelaskan nilai dan pengalaman yang dapat diperoleh mahasiswa melalui proses kaderisasi.
- Price: calon kader perlu memahami bahwa berorganisasi membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, dan komitmen.
- Place: ruang kaderisasi harus dibuat nyaman, terbuka, dan sesuai dengan karakter mahasiswa.
- Promotion: PMII perlu memanfaatkan media sosial, kegiatan kampus, komunikasi personal, serta jaringan mahasiswa untuk memperkenalkan organisasi.
Namun, perekrutan hanyalah pintu masuk. Persoalan yang lebih besar adalah apa yang terjadi setelah seseorang menjadi kader.
Merawat Kader sebagai Jalan Keberlanjutan
Kader yang telah mengikuti MAPABA, PKD, maupun proses kaderisasi lainnya tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Merawat kader berarti membangun hubungan yang berkelanjutan melalui kaderisasi informal dan nonformal. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara.
- Membangun Kelompok Kecil. Small Group Discussion (SGD) dapat menjadi ruang bagi kader untuk berdiskusi, bertanya, menyampaikan persoalan, dan membangun kedekatan dengan pendamping. Kelompok kecil juga memungkinkan pengurus lebih mengenal karakter dan perkembangan masing-masing kader.
- Membangun Hubungan Emosional. Kaderisasi tidak selamanya harus berlangsung di ruang formal. Ngopi, diskusi santai, silaturahmi, sowan kepada senior dan alumni, serta kegiatan kebersamaan dapat menjadi ruang untuk membangun rasa kekeluargaan. Organisasi bukan hanya tentang struktur dan jabatan, tetapi juga tentang hubungan antarmanusia.
- Memberikan Panggung kepada Kader. Kader harus diberi kesempatan untuk mengambil peran. Mereka dapat diberikan ruang menjadi moderator, MC, pemantik diskusi, penulis, pengelola media sosial, panitia kegiatan, pemimpin diskusi kecil, dan penggerak kegiatan sosial. Dari ruang kecil tersebut, kader belajar mengambil tanggung jawab dan perlahan membangun kapasitas kepemimpinannya.
- Menjawab Kebutuhan Akademik dan Masa Depan. PMII juga perlu hadir dalam persoalan nyata kader. Kegiatan dapat dikembangkan melalui klinik akademik, kelas kepakaran, pelatihan menulis, jurnalistik, desain, konten digital, public speaking, riset, hingga kewirausahaan. Dengan begitu, kaderisasi memiliki relevansi dengan kehidupan mahasiswa.
Need Assessment: Jangan Berasumsi tentang Kader
Salah satu hal penting dalam merawat kader adalah mendengarkan kader. Pengurus perlu mengetahui mengapa kader mulai jarang hadir, apa kendalanya, kegiatan apa yang mereka butuhkan, keterampilan apa yang ingin mereka pelajari, serta apa yang membuat mereka merasa memiliki ruang di PMII.
Hal ini dapat dilakukan melalui wawancara, diskusi kelompok, kuesioner, evaluasi kegiatan, maupun komunikasi personal. Sebab, program kaderisasi yang baik bukan hanya program yang dianggap bagus oleh pengurus, tetapi program yang menjawab kebutuhan kader.
Dari Evaluasi Menuju Regenerasi
Setiap proses kaderisasi membutuhkan evaluasi. Metode perekrutan perlu dilihat kembali. Kegiatan yang tidak berjalan perlu dicari penyebabnya. Kader yang mulai tidak aktif perlu didekati. Program yang tidak relevan perlu diperbarui.
Siklusnya dapat dirumuskan seperti: Mencari → Merekrut → Membentuk → Mendampingi → Memberikan Ruang → Mengembangkan → Mengevaluasi → Mempersiapkan Regenerasi
Siklus tersebut menunjukkan bahwa kaderisasi bukan kegiatan yang selesai setelah satu agenda berakhir.
Kaderisasi adalah perjalanan.
Safari kaderisasi sebagai ruang bertemu dan bertumbuh. Melalui Safari Kaderisasi Goes To Komisariat UNINDRA, pembahasan kaderisasi diarahkan untuk tidak berhenti pada persoalan jumlah kader.
Yang lebih penting adalah bagaimana PMII membangun sistem yang memungkinkan kader bertahan, berkembang, dan memiliki ruang aktualisasi.
Safari Kaderisasi menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dengan realitas, mempertemukan senior dengan kader, serta mempertemukan persoalan dengan solusi.
Dari komisariat, kita belajar bahwa setiap kader memiliki cerita. Ada yang datang dengan semangat, ada yang datang karena rasa ingin tahu, ada yang sedang mencari ruang belajar, dan ada pula yang membutuhkan ruang untuk berkembang.
Tugas organisasi adalah membaca keragaman tersebut dan menjadikannya sebagai kekuatan kaderisasi.
Kaderisasi adalah Perjalanan
Safari Kaderisasi Goes To Komisariat UNINDRA bukan hanya tentang datang dan berdiskusi. Lebih dari itu, safari ini menjadi upaya untuk melihat kembali perjalanan kaderisasi PMII: dari mana kita memulai, persoalan apa yang kita hadapi, dan ke mana kaderisasi akan diarahkan.
Kaderisasi yang berkelanjutan membutuhkan kreativitas dalam merekrut, ketekunan dalam mendampingi, kepekaan dalam membaca kebutuhan kader, serta keberanian untuk melakukan evaluasi dan pembaruan.
Sebab, kader tidak hanya membutuhkan tempat untuk berorganisasi. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar, ruang untuk didengar, ruang untuk berproses, dan ruang untuk menjadi bagian dari perjalanan panjang PMII.
Safari Kaderisasi Goes To Komisariat UNINDRA — Membaca Realitas, Merawat Kader, Menguatkan Regenerasi. #RA09
.jpg)
0 Komentar