Warta

Sisi Lain Pelacur Intelektual

Fakih Mukodam, Pengurus PKC PMII Jawa Barat. (Foto: Aktivis Autentik)
Aktivis Autentik - Panggung demonstrasi di siang bolong selalu punya magisnya tersendiri. Di atas mobil komando yang berguncang, seorang aktivis dengan almamater kebanggaan tampak begitu perkasa. Orasinya memukau, membelah langit, mengutuk ketimpangan, dan bersumpah demi nama rakyat yang tertindas. Ia berdiri bagai benteng terakhir kebenaran, menolak tunduk, menolak dibeli. Massa bersorak, cacing-cacing di selokan seolah ikut mengangguk sepakat bahwa idealisme adalah harga mati.

Namun, estetika perlawanan yang sakral itu mendadak luluh lantah ketika realitas logistik mengetuk pintu kesadaran. Pengakuan jujur dari balik jeruji moral baru-baru ini. seperti drama pengkondisian demonstrasi oleh oknum ketua BEM Hukum UBK (Universitas Bung Karno) yang mengaku menerima pelicin dari Wakil Presiden Gibran Rakabumingraka dan membuka tabir yang selama ini tertutup rapat. Ternyata, teriakan lantang "Demi Rakyat" di siang hari memiliki label harga yang sangat presisi di malam hari. Lembaran rupiah mendarat, dan seketika arah angin perjuangan bisa "dikondisikan" sesuai pesanan pemodal.

Di sinilah kita menyaksikan metamorfosis paling puitis dari apa yang disebut sebagai pelacur intelektual. Mereka yang di dalam kelas fasih mendiskusikan teori keadilan sosial, di jalanan berubah menjadi makelar massa. Menggalang kemarahan publik bukan lagi soal membela hak yang dirampas, melainkan bagian dari kalkulasi bisnis yang matang. Setiap kepala mahasiswa yang ikut turun ke jalan adalah komoditas, dan setiap kepalan tangan ke udara adalah nilai tawar untuk menaikkan tarif negosiasi di meja belakang.

 Idealisme, yang katanya setinggi langit dan sekeras batu karang, ternyata memiliki titik didih yang sangat rendah. tepat di angka ketika lambung mulai melilit dan amplop koordinasi disodorkan di bawah meja.

Kita tentu tidak boleh terlalu kejam menyalahkan sang singa podium. Menjadi pelacur intelektual di era penuh ketidakpastian memang menuntut keahlian akrobatik yang luar biasa. Mereka harus pintar menjaga estetika sebagai pahlawan kaum papa di media sosial, sembari memutar otak bagaimana caranya agar orasi mereka bisa ditukar dengan token listrik, gaya hidup urban, atau mengamankan isi perut dari ancaman kelaparan yang tidak elit. Tragisnya, penderitaan rakyat yang asli hanya menjadi latar belakang dari panggung sandiwara demi mengenyangkan perut sang aktor.

Maka, jika esok hari kita melihat demonstrasi yang tiba-tiba melunak, atau isu besar yang mendadak menguap ditiup angin, janganlah kecewa atau bingung. Mereka tidak sedang mengkhianati perjuangan secara gratis. Mereka hanya sedang melakukan "sinkronisasi logistik". Lagipula, bukankah teori-teori pergerakan yang rumit itu baru bisa dicerna dengan baik kalau lambung dalam keadaan stabil dan dompet terisi penuh?

Pada akhirnya, kita harus maklum. Suara lantang di jalanan itu sering kali bukan murni representasi dari jeritan penderitaan rakyat, melainkan bunyi keroncongan dari perut yang lapar atau mungkin, bunyi gemerincing koin transferan yang masuk ke rekening pimpinan pergerakan. Bersoraklah untuk para pelacur intelektual, yang demi menyambung hidup dan memuaskan isi perut, rela menggadaikan isi kepala dan nama baik almamaternya sendiri.

Penulis: Fakih Mukodam, Pengurus PKC PMII Jawa Barat.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close