![]() |
| Penulis: Hilman Andi Muhammada. |
Mahendra (2024) menjelaskan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan identitas sosial mahasiswa di era digital. Dalam pandangan Henri Tajfel melalui Social Identity Theory, individu membentuk identitas dirinya melalui keterlibatan dalam kelompok sosial tertentu. Pada titik inilah organisasi mahasiswa perlahan mengalami pergeseran makna: dari ruang pengasahan kesadaran kritis menuju etalase eksistensi yang dipenuhi dokumentasi kegiatan, simbol keterlibatan, dan pencitraan digital.
PMII sejak awal lahir sebagai organisasi kader yang bertumpu pada tradisi intelektual, kajian ideologis, dan kesadaran sosial. Kaderisasi tidak hanya dimaksudkan untuk membentuk kemampuan organisatoris, tetapi juga melahirkan keberanian berpikir dan kepekaan terhadap realitas masyarakat. Afif et al. (2022) menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa tetap menjadi ruang pembentukan identitas sosial melalui interaksi kelompok dan pengakuan kolektif. Akan tetapi, generasi mahasiswa hari ini tumbuh di tengah budaya digital yang memuliakan kecepatan informasi, visualisasi konten, dan validasi sosial. Akibatnya, aktivitas organisasi perlahan bergerak dari ruang refleksi menuju ruang representasi.
Dokumentasi kegiatan, publikasi media sosial, dan citra organisasi menjadi semakin dominan dibanding pendalaman gagasan dan dialektika intelektual. Identitas kader tidak lagi hanya dibangun melalui internalisasi nilai dan proses reflektif, tetapi juga melalui pengakuan sosial yang diperoleh dari ruang digital.
Perubahan tersebut melahirkan fenomena performative activism, yakni keterlibatan sosial yang lebih menonjolkan tampilan perjuangan dibanding makna perjuangan itu sendiri. Organisasi tidak lagi sekadar menjadi medan dialektika gagasan, tetapi juga arena kompetisi simbolik untuk memperoleh pengakuan, popularitas, dan eksistensi sosial. Vogel et al. (2014) menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkaitan dengan meningkatnya perilaku perbandingan sosial dan kebutuhan validasi diri pada mahasiswa. Dari situ muncul kecenderungan social comparison, yaitu perilaku membandingkan diri dengan anggota lain berdasarkan popularitas, posisi organisasi, maupun intensitas keterlibatan yang terlihat di ruang digital. Aktivisme pada akhirnya berisiko berubah menjadi simbol keterlibatan sosial yang lebih sibuk dipamerkan daripada dimaknai.
Di saat yang sama, budaya reflektif dan tradisi intelektual perlahan kehilangan ruang hidupnya. Generasi digital lebih akrab dengan arus konten singkat dan stimulasi visual dibanding pembacaan panjang serta diskusi mendalam yang menuntut ketekunan berpikir. Forum kajian dan dialektika ideologis semakin kehilangan gaung di tengah budaya yang serba cepat dan instan. Motivasi berorganisasi pun mulai bergeser; dari semangat perjuangan sosial menuju kebutuhan relasi, pengalaman organisasi, dan pembangunan citra diri. Jika kondisi ini terus berlangsung, organisasi gerakan berisiko mengalami krisis identitas: ramai oleh aktivitas, tetapi sunyi dari refleksi dan arah ideologis.
Namun, persoalan ini tidak dapat dipahami semata sebagai kemunduran generasi muda ataupun ancaman media sosial. Budaya digital adalah realitas yang membentuk cara mahasiswa berinteraksi, membangun identitas, dan mencari penerimaan sosial. Masalah utamanya bukan terletak pada media sosial itu sendiri, melainkan pada orientasi keterlibatan organisasi yang mulai lebih sibuk mengejar simbolisasi eksistensi dibanding pendalaman nilai perjuangan. Organisasi mahasiswa akhirnya tidak hanya menjadi ruang perjuangan kolektif, tetapi juga arena pembentukan citra sosial dan identitas personal.
Karena itu, tantangan terbesar PMII hari ini bukan sekadar bertahan di era digital, melainkan menemukan kembali cara merawat kesadaran kritis di tengah budaya yang serba performatif. Kaderisasi perlu dibangun lebih kontekstual, reflektif, dan dekat dengan pengalaman psikologis generasi digital tanpa kehilangan tradisi intelektualnya. Media sosial seharusnya tidak berhenti menjadi etalase dokumentasi organisasi, tetapi digunakan sebagai ruang edukasi, refleksi, dan penyebaran gagasan kritis. PMII perlu kembali menempatkan solidaritas sosial, budaya membaca, dan keberanian berpikir sebagai inti gerakan agar kader tidak hanya merasa hadir secara administratif, tetapi juga tumbuh secara ideologis dan intelektual.
Organisasi gerakan tidak cukup hanya terlihat hidup di ruang digital. Ia harus tetap menjadi ruang yang menyalakan kesadaran, merawat keberanian berpikir, dan membentuk cara mahasiswa memandang realitas sosialnya. Sebab, gerakan yang terlalu sibuk dipertontonkan perlahan akan kehilangan kemampuan untuk benar-benar diperjuangkan.
Penulis: Hilman Andi Muhammada.
Referensi:
- Afif, Y., Rini, H. S., & Prasetyo, K. B. (2022). Konstruksi identitas mahasiswa melalui organisasi himpunan mahasiswa (Studi kasus HIMA Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang). Solidarity: Journal of Education, Society and Culture, 11(2). https://doi.org/10.15294/solidarity.v11i2.61786
- Mahendra, S. (2024). Peran media sosial terhadap pembentukan identitas nasional mahasiswa di era digital. LANCAH: Jurnal Inovasi dan Tren, 3(1). https://doi.org/10.35870/ljit.v3i1.3464
- Tajfel, H., & Turner, J. C. (1979). An integrative theory of intergroup conflict. In W. G. Austin & S. Worchel (Eds.), The social psychology of intergroup relations (pp. 33–47). Brooks/Cole.
- Vogel, E. A., Rose, J. P., Roberts, L. R., & Eckles, K. (2014). Social comparison, social media, and self-esteem. Psychology of Popular Media Culture, 3(4), 206–222. https://doi.org/10.1037/ppm0000047
.jpg)
0 Komentar