![]() |
| Kepemimpinan Perempuan Kader KOPRI PMII Malang. (Foto: Aktivis Autentik) |
Berawal dari pertanyaan tersebut sebagai alur pembahasan hari itu, perempuan jelas bisa menjadi pemimpin karena pada dasarnya perempuan dan laki-laki itu sama-sama memiliki hak yang sama. Tidak ada yang membedakan siapa yang berhak menjadi pemimpin dan siapa yang tidak. Memang dalam Al-Qur’an terdapat ayat “Ar-rijālu qawwāmūna ‘alan nisā” yang menjelaskan bahwasannya laki-laki adalah seorang pemimpin bagi perempuan. Tapi hal tersebut bukan berarti perempuan tidak bisa memimpin sama sekali.
Kalau dilihat di sekitar masyarakat indonesia, memang kebanyakan pemimpin masih didominasi laki-laki. Salah satu alasannya karena laki-laki cenderung ketika melihat sesuatu itu menggunakan logika dan kenyataan. Saat menghadapi masalah, mereka biasanya lebih fokus mencari solusi secara rasional saja. Sedangkan perempuan cenderung lebih menggunakan perasaan dalam memahami sesuatu atau saat mengambil suatu keputusan. Karena perempuan lebih mudah tersentuh atau terpengaruh oleh keadaan, maka dari itu banyak orang menganggap perempuan kurang cocok menjadi pemimpin.
Tapi hal tersebut itu tidak bisa langsung menjadikan suatu kekurangannya perempuan. Justru di dalam kepemimpinan, perasaan juga dibutuhkan. Bayangkan kalau seorang pemimpin hanya menggunakan logika saja tanpa mempunyai rasa peduli, mungkin kepemimpinannya akan terasa dingin. Adanya suatu empati dan rasa memahami orang lain itu sangat penting, karena supaya terbangunnya chemistry antara pemimpin dengan masyarakat atau anggotanya.
Meskipun begitu, di dalam kepemimpinan kalau terlalu memakai perasaan juga tidak selalu baik. Karena bisa saja keputusan yang diambil dapat menjadi kurang objektif atau hanya mengikuti emosi sesaat saja. Karena itu, perempuan juga perlu belajar mengontrol perasaannya saat menjadi pemimpin. Maka ada yang namanya manajemen diri atau ’analisis diri’, yaitu kemampuan untuk memahami dan mengendalikan diri sendiri supaya tidak terlalu berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kurang.
Sebenarnya hal ini juga berlaku untuk laki-laki. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan logika saja, karena tidak semua masalah selesai dengan cara berpikir secara rasional saja. Terdapat suatu keadaan tertentu yang juga membutuhkan rasa empati dan memahami kondisi orang lain. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan harus sama-sama belajar menyeimbangkan logika dan perasaan agar kepemimpinannya bisa berjalan dengan baik.
Selain membahas perempuan menjadi pemimpin, diskusi juga membahas tentang “Pemimpin itu sebenarnya dilahirkan atau diciptakan?” Melihat teori yang tidak asing dikalangan aktivis yaitu, namanya teori monarki. Dimana pemimpin dianggap dilahirkan karena kepemimpinannya diwariskan secara turun-temurun, seperti dalam sistem kerajaan. Misalnya ayahnya seorang raja, maka anaknya juga akan meneruskan kepemimpinannya tersebut sampai generasi-generasi selanjutnya.
Tapi kalau dilihat dari zaman sekarang, terutama di Indonesia, sistemnya lebih ke pemimpin itu bisa ’diciptakan.’ Karena siapa saja itu mempunyai hak untuk menjadi seorang pemimpin melalui proses seperti pemilihan atau voting. Sistem seperti ini memberikan kesempatan kepada semua orang, bukan hanya orang-orang dari keturunan tertentu saja.
Menariknya lagi, tidak sedikit orang yang awalnya biasa saja, tetapi setelah diberi amanah dan tanggung jawab justru karakternya terbentuk menjadi seorang pemimpin. Kadang seseorang baru terlihat jiwa kepemimpinannya ketika dia sudah dipercaya untuk memegang suatu tanggung jawab. Jadi, menjadi pemimpin bukan hanya soal bakat dari lahir saja, melainkan juga soal suatu proses; belajar, pengalaman, dan bagaimana seseorang dapat membawa amanah itu dengan baik.
Dari pembahasan ini, dapat dipahami bahwa perempuan tetap bisa menjadi seorang pemimpin. Yang paling penting bukan soal laki-laki atau perempuan, tetapi bagaimana seseorang dapat mampu untuk mengendalikan dirinya, menyeimbangkan logika dan perasaan, serta bertanggung jawab atas amanah yang diberikan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan yang baik itu bukan hanya tentang siapa yang memimpin, tetapi bagaimana cara seseorang dapat memimpin dengan bijak.
Penulis: Naqiyyah Salsabila, Kader KOPRI PMII Malang.
.jpg)
0 Komentar