![]() |
| PMII di Persimpangan Menjaga Api Pergerakan atau Kehilangan Ruh Perjuangan. (Foto: Aktivis Autentik) |
Karena itu, ber-PMII sejatinya bukan sekadar menjadi anggota organisasi, tetapi menjalani proses panjang untuk menempa kesadaran, memperdalam pemikiran, dan membangun keberanian moral dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan.
Dalam perjalanan sejarahnya, PMII dikenal memiliki tradisi intelektual yang kuat. Diskusi, kajian pemikiran, dan perdebatan gagasan menjadi bagian dari kehidupan kader. Dari ruang-ruang sederhana seperti sekretariat kecil atau warung kopi, sering lahir pemikiran kritis tentang agama, masyarakat, dan masa depan bangsa. Tradisi inilah yang dahulu membentuk kader PMII menjadi pribadi yang tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir dan kepekaan sosial.
Namun realitas PMII hari ini menghadirkan refleksi tersendiri. Kegiatan organisasi mungkin tetap berjalan, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedalaman makna. Sebagian kader lebih sibuk dengan aktivitas struktural dan dinamika jabatan dibandingkan memperkuat tradisi intelektual dan kesadaran ideologis.
Diskusi yang seharusnya menjadi jantung pergerakan terkadang tergeser oleh rutinitas kegiatan yang bersifat formal. Ketika orientasi kader mulai bergeser dari nilai menuju kepentingan, di situlah ruh pergerakan berpotensi melemah.
Meski demikian, PMII tetap memiliki warisan nilai yang sangat kuat. Tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat, semangat berpikir kritis, serta keberpihakan kepada masyarakat kecil adalah fondasi yang tidak boleh hilang. Nilai-nilai inilah yang harus terus dirawat agar PMII tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, masa depan PMII tidak hanya bergantung pada struktur organisasi, tetapi pada kesadaran kadernya. Jika kader mampu menjaga nilai, menghidupkan kembali tradisi intelektual, dan tetap berkomitmen pada perjuangan moral, maka PMII akan tetap menjadi gerakan yang bermakna bagi umat dan bangsa.
Penulis: Arung, Kader PMII UINSI Samarinda
.jpg)
0 Komentar