![]() |
| Muhammad Ali Wafa. (Foto; Aktivis Autentik) |
Jika kemudian segala amal ibadah dilipat gandakan saat bulan ramadan, maka mencari ilmu tentunya mendapatkan ganjaran serupa. Bagaimana tidak? kegiatan ini dalam literatur hadis dikatakan “lebih mulia” dari ibadah sunah. Pun juga majelis yang disebut sebut sebagai “bagian dari taman surga”, juga layak mendapatkan pahala berlipat tersebut. Menuntut ilmu dan berdiskusi juga hal yang jangan sampai ditinggalkan utamanya di bulan yang berkah ini.
Sebenarnya cukup banyak variabel yang menjadi pengaruh apakah seorang hamba bisa mendapatkan pahala berlipat saat bulan ramadan. Dis ini kami tidak ingin membahas perihal tersebut karena memang kapasitas kami belum sampai di tahap tersebut. Pelik sekali keadaan saat ini, orang bisa seenak jidat berceramah sana sini dengan gagahnya, padahal dia tidak mampu untuk sekadar membaca teks arab sebagai sumber utama dalam beragama. Pun juga dengan kondisi sosial politik, ah demokrasi justru membuka peluang orang bisa berbicara ngawur tanpa data dalam memberikan kritik. Kalau anda ingin Solusi, maka Pendidikan Jawabannya
Malam ramadan yang tenang nan syahdu setelah salat Tarawih, dibarengi dengan angin malam yang menggugurkan daun-daun dari pohonnya. Turut menemani diskusi Intelektual yang dilaksanakan secara terbatas. Dengan menggunakan media zoom yang sangat tidak efektif, tidak interaktif dan seabrek kekurangan lainnya. Tapi sekalipun dengan sejuta kekurangan tersebut, tetap ada Pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan ini. Tentunya dengan pegangan bahwa dalam kekurangan, orang bisa tulus, di sinilah bisa dibuktikan bahwa diskusi dan belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun, tanpa harus dengan protokoler yang Panjang.
Diskusi malam mini membahas tentang gerakan mahasiswa di Indonesia. Ibu Rika Inggit Asmawati (Pemateri) memulai dengan posisi mahasiswa sebagai generasi muda yang memiliki kekuatan moral sepanjang sejarah Republik Indonesia yang tidak dimanipulasi tentunya. Mahasiswa dan generasi muda sering muncul sebagai aktor yang patut diperhitungkan dalam berbagai kesempatan mulai dari sejak sebelum masa pergerakan nasional, masa revolusi bahkan sampai masa reformasi. Keterlibatan mahasiswa ini pun dilukiskan dan bingkai secara indah dalam satu garis besar lintasan Sejarah seperti dibawah ini.
![]() |
| Garis Besar Sejarah. (Foto; Aktivis Autentik) |
Melihat track record seperti yang dikemukakan di atas, tentunya sudah mafhum bahwa mahasiswa memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan nasib bangsa. Namun pengaruh tersebut bukan berarti tanpa tantangan sama sekali. Pepatah berkata bahwa semakin besar batang pohon, semakin kuat pula angin yang siap mencabut pohon itu sampai ke akar akarnya.
Pun dengan kondisi mahasiswa, zaman sekarang sudah banyak mahasiswa yang duduk dengan gagah di meja-meja perkuliahan, Pendidikan di perguruan tinggi sudah menjadi trend yang bukannya menjadi “kawah” untuk berpikir dan ruang “penempaan” namun tak lebih dari sekadar “mesin pencetak tenaga kerja” yang pragmatis. Inilah tantangan yang terjadi saat ini.
Lebih dari sekadar itu, gerakan mahasiswa juga menghadapi tantangan yang kian hari kian kompleks. Tantangan itu dapat dikerucutkan menjadi 3 poin utama yaitu fragmentasi, kooptasi dan integrasi aksi. Fragmentasi dalam gerakan mahasiswa menyebabkan kurangnya solidaritas dan koordinasi, mengakibatkan ketidakmampuan untuk menyatukan suara dalam menghadapi tantangan politik saat ini. Fragmentasi terjadi manakala gerakan mahasiswa terjebak dalam politik sektarianisme, bukan dalam satu tujuan Bersama.
Kooptasi oleh partai politik dan birokrasi sering kali menghilangkan independensi gerakan mahasiswa, menjadikan mereka alat politik yang tidak mampu mempengaruhi perubahan substansial. Gerakan yang terkooptasi ini akan menyurutkan atau bahkan meruntuhkan semangat perubahan. Gerakan mahasiswa bukan lagi tergerak dari semangat perubahan dan respon sosial terhadap kebijakan yang dikatakan menyengsarakan (dengan cetak miring) masyarakat, tetapi berujung pada kepentingan golongan tertentu.
Integrasi antara aksi daring dan luring menjadi tantangan besar, karena perubahan zaman menuntut mahasiswa untuk beradaptasi dengan teknologi sambil tetap terlibat secara langsung dalam aksi sosial. Tantangan selalu ada, kemampuan dalam membaca informasi, kemampuan dalam menuangkan gagasan dalam media pun juga menjadi tantangan. Kesalahan dalam membaca atau menuangkan gagasan akan menyebabkan Blunder dan justru memperkeruh suasana.
Yang paling penting dari semua yang sudah dipaparkan di atas adalah, bahwa mahasiswa harus memiliki daya tahan yang tinggi utamanya Ketika disebut sebagai agen of change yang sering digaungkan melalui mimbar mimbar kampus. Sudah tentu mahasiswa harus benar-benar memiliki integritas dan tidak memihak ke satu pihak tertentu apalagi terkooptasi dan dipengaruhi oleh golongan yang berkepentingan.
Hal ini hanya bisa terwujud manakala mahasiswa memiliki kapasitas dan konstruksi pemikiran yang objektif dan mengikis sentimen dalam bertukar gagasan dengan berbagai pihak. Pentingkah bersikap objektif? sangat penting sekali, karena jika emosi menyamar menjadi logika, rasa dianggap sebagai fakta, maka saat itulah seseorang Tengah mengalami “Distorsi nalar”. Nalar mengalami penurunan kualitas dan digantikan dengan sentiment dan emosi belaka, yang bukan nya memberikan problem solving tetapi malah menambah problem baru.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda” - Tan Malaka.
Penulis: Muhammad Ali Wafa.
.jpg)
.jpg)
0 Komentar