![]() |
| Saprudin Tanjung, Kader PK PMII universitas Djuanda Bogor. (Foto: Aktivis Autentik) |
Di banyak organisasi mahasiswa termasuk dalam tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) kaderisasi kerap terjebak dalam rutinitas yang mekanis, ia hadir dalam bentuk kaderisasi formal, forum diskusi, atau agenda tahunan yang berjalan sesuai tradisi organisasi. Akan tetapi, di balik itu semua sering kali tersimpan persoalan mendasar, kaderisasi berjalan, tetapi pembentukan kader tidak benar-benar terjadi, dari situ lahir paradoks yang menarik, organisasi mampu melahirkan kader yang fasih mengulang jargon perjuangan, tetapi gagap ketika berhadapan dengan kerja-kerja organisasi. Di sisi lain, muncul pula kader yang aktif dalam aktivitas organisasi, tetapi kehilangan orientasi ideologis yang seharusnya menjadi ruh gerakan, Kedua tipe ini menunjukkan satu hal yang sama, yaitu kaderisasi gagal menyatukan antara gagasan, pengalaman, dan kesadaran sosial.
Jika kaderisasi dipahami hanya sebagai proses transfer pengetahuan organisasi, maka yang lahir adalah kader yang hafal konsep tetapi tidak memiliki kapasitas praksis, Sebaliknya, jika kaderisasi hanya berisi aktivitas organisasi tanpa landasan ideologis yang kuat, maka organisasi berisiko kehilangan arah gerakannya, di titik inilah persoalan kaderisasi seharusnya dibaca sebagai persoalan falsafah pendidikan organisasi, dalam tradisi pemikiran pendidikan modern, terdapat setidaknya tiga pendekatan yang dapat menjadi kerangka dalam membangun metode kaderisasi yang lebih utuh, yaitu progresivisme, esensialisme, dan rekonstruksionisme.
Pendekatan progresivisme, yang banyak dipengaruhi pemikiran John Dewey, memandang bahwa pendidikan tidak lahir dari ceramah, melainkan dari pengalaman, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari proses keterlibatan manusia dalam realitas yang dihadapinya, dengan kata lain, seseorang tidak belajar hanya dengan mendengar, tetapi dengan melakukan dan mengalami.
Jika gagasan ini dibawa ke dalam praktik kaderisasi organisasi, maka forum diskusi atau penyampaian materi tidak dapat lagi dianggap sebagai inti proses kaderisasi, ia hanya salah satu bagian kecil dari proses yang lebih besar. Kaderisasi seharusnya menempatkan kader dalam situasi nyata misalnya memimpin rapat, merumuskan gagasan, mengelola konflik, hingga mengambil keputusan kolektif.
Melalui proses itu, organisasi tidak sekadar diajarkan kepada kader, tetapi dihidupkan dalam pengalaman mereka, namun pengalaman saja tidak cukup untuk menjaga keberlanjutan organisasi, pengalaman tanpa arah hanya akan melahirkan aktivisme yang sporadis. Oleh karena itu, kaderisasi juga membutuhkan fondasi nilai yang kuat, disinilah pendekatan esensialisme menemukan relevansinya, esensialisme menekankan bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab untuk mentransmisikan nilai-nilai inti yang menjadi dasar suatu peradaban atau komunitas, dalam konteks organisasi, nilai inti itu adalah ideologi dan tradisi gerakan.
Tanpa proses internalisasi nilai yang serius, organisasi berisiko kehilangan identitasnya, kader bergerak, tetapi tidak memahami arah gerakannya, oleh sebab itu, kaderisasi dalam tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia harus memastikan bahwa kader memahami sejarah organisasi, tradisi intelektual yang melahirkannya, serta nilai-nilai pergerakan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Akan tetapi, kaderisasi yang hanya berorientasi pada internal organisasi juga menyimpan risiko lain, organisasi dapat terjebak dalam ruang yang eksklusif dan terpisah dari realitas sosial, padahal organisasi mahasiswa lahir dari problem sosial yang nyata, perspektif inilah yang ditekankan dalam pendekatan rekonstruksionisme yang dikembangkan oleh George S. Counts. Dalam pandangan ini, pendidikan harus melahirkan individu yang tidak hanya memahami dunia, tetapi juga memiliki keberanian untuk mengubahnya, jika perspektif ini diterapkan dalam kaderisasi, maka organisasi tidak boleh membatasi ruang belajar kader hanya pada aktivitas internal, kader perlu dilatih untuk membaca persoalan masyarakat, memahami dinamika sosial, serta terlibat dalam upaya perubahan sosial, dengan demikian, kaderisasi tidak lagi sekadar membentuk anggota organisasi, tetapi membentuk subjek intelektual yang sadar terhadap realitas sosialnya.
Dari ketiga pendekatan tersebut dapat dirumuskan sebuah kerangka kaderisasi yang lebih integral Kaderisasi dimulai dari proses internalisasi nilai, berlanjut pada pengalaman organisasi, dan mencapai puncaknya dalam kesadaran serta keterlibatan sosial, dalam kerangka ini, kaderisasi tidak lagi dipahami sebagai rangkaian kegiatan formal organisasi, ia berubah menjadi proses pendidikan yang hidup, dimana kader memahami nilai perjuangan, mengalami dinamika organisasi, dan pada akhirnya menemukan peran sosialnya dalam masyarakat.
Krisis kaderisasi yang sering dibicarakan dalam tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia pada dasarnya bukan sekadar persoalan teknis pelatihan kader, ia merupakan krisis dalam cara organisasi memahami pendidikan kader itu sendiri, selama kaderisasi masih dipahami sebatas agenda organisasi, maka ia akan terus berulang sebagai rutinitas tanpa transformasi, tetapi ketika kaderisasi dipahami sebagai proses pendidikan yang membentuk kesadaran, kapasitas, dan keberpihakan sosial kader, maka organisasi memiliki peluang untuk melahirkan generasi baru yang tidak hanya mampu mengelola organisasi, tetapi juga mampu membaca dan mengubah realitas sosial.
Pada titik itulah kaderisasi benar-benar bekerja sebagai jantung organisasi, bukan sebagai slogan yang diulang dalam forum kader, tetapi sebagai proses yang terus memompa kehidupan ke dalam tubuh organisasi.
.png)
0 Komentar