![]() |
| Hasan Komarudin, Kader PMII. (Foto: Aktivis Autentik) |
Di banyak kampus, PMII kerap terjebak di simpang gang: antara rutinitas struktural dan kebutuhan kaderisasi substantif. Aktivitas formal berjalan, namun daya dorong ideologis dan militansi kader melemah. Orientasi mahasiswa baru sering berakhir sebagai seremoni, bukan pintu masuk pembentukan nalar kritis dan komitmen organisasi. Akibatnya, anggota baru datang, lalu pergi tanpa jejak kaderisasi yang kuat.
Komisariat seharusnya berfungsi sebagai pusat konsolidasi gagasan dan strategi. Namun, tanpa desain kaderisasi yang adaptif, komisariat berisiko menjadi sekadar pengelola administrasi. Sementara itu, rayon yang sejatinya ujung tombak kaderisasi sering kekurangan ruang inovasi dan dukungan kapasitas. Padahal, di rayonlah kader pertama kali berproses, berdebat, dan menemukan makna ber-PMII.
Tren partisipasi organisasi mahasiswa menunjukkan penurunan konsistensi keaktifan pasca-orientasi. Generasi Z dikenal cepat tertarik namun juga cepat bosan; mereka menuntut relevansi, ruang ekspresi, dan dampak nyata. Dalam beberapa tahun ke depan, masuknya Gen Alfa yang lebih digital-native dan visual akan mempercepat perubahan lanskap kemahasiswaan. Tanpa inovasi kaderisasi berbasis literasi digital, isu global, dan problem lokal kampus, PMII berisiko ditinggalkan.
Sebagai solusi, Pertama, komisariat perlu memosisikan diri sebagai think tank kaderisasi: menyusun kurikulum ideologis-praktis yang kontekstual dengan isu kampus, kebangsaan, dan global. Kedua, rayon harus diperkuat sebagai ruang belajar yang cair namun berisi diskusi tematik, advokasi isu mahasiswa, dan proyek sosial konkret. Ketiga, pendekatan kepada mahasiswa baru harus jujur dan rasional: PMII bukan sekadar organisasi, melainkan ruang tumbuh nalar, jejaring, dan keberpihakan sosial. Keempat, pembinaan anggota baru harus berbasis pendampingan personal dan komunitas kecil bukan hanya rapat besar yang melelahkan.
PMII tidak kekurangan sejarah, tetapi membutuhkan keberanian menjemput masa depan. Di simpang gang kampus ini, pilihan jelas: berbenah atau tertinggal. Dengan menguatkan komisariat sebagai pengarah dan rayon sebagai ujung tombak kaderisasi, PMII dapat kembali meyakinkan mahasiswa termasuk generasi yang paling skeptis bahwa ber-PMII masih relevan, rasional, dan bermakna. Singkatnya, kaderisasi harus kembali menyala; jika tidak, simpang gang itu akan menjadi jalan buntu.
Penulis: Hasan Komarudin, penulis Novel “Arly (Aku Yang Salah)” 2022 | Buku “Santri Generasi Z (Mengenal Identitas Remaja Muslim di Era Digital)” 2023 | Buku “Cie Jomblo (Remender Akan Rahmat Tuhan Yang Maha Mencintai Hambanya)” 2023 | Buku "Seni Menghargai Diri Sendiri" 2024 | Buku Metode Musyawarah : Sebagai Strategi Untuk Meningkatkn Pemahaman Santri” 2025
Sekretaris Rayon Tarbiyah 2022 | Ketua 2 Komisariat Wasfal 2023 | Ketua Biro Media & Publikasi PC PMII Lebak 2024
.jpg)
0 Komentar