Warta

Korelasi Antara NDP dan Pancasila di dalam Kehidupan Mahasiswa Ber-PMII

Rifky Gimnastiar, Ketua PMII Rayon Averroes/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - Dalam dunia aktivisme mahasiswa, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hadir sebagai rumah ideologis yang menanamkan nilai nilai dasar kebangsaan. Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai salah satu ajarannya yang mensublimasikan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah. NDP merupakan landasan etis dan spiritual yang direkonstruksi untuk membentuk cara pandang dan sikap gerak dalam merespon problematika kehidupan berbangsa.

Disisi lain Pancasila sebagai ideologi negara adalah titik temu nilai-nilai kebangsaan yang mengikat seluruh warga Indonesia. Dalam pijakan mahasiswa berorganisasi kedua pijakan ini memiliki korelasi yang erat dan Simbiosis Mutualisme.

Pertama, NDP memposisikan tauhid sebagai titik awal kesadaran manusia. Bahwa hidup, termasuk aktivitas berorganisasi adalah bagian dari penghambaan kepada Allah SWT. Hal ini juga selaras dengan sila pertama Pancasila, yang menegaskan "Ketuhanan Yang Maha Esa" sebagai dasar moral kehidupan berbangsa.

Mahasiswa Aktivis yang mengintegrasikan NDP  memahami bahwa perjuangan sosial bukan sekedar aksi politis, tetapi salah satu bentuk ibadah yang bersandar pada nilai-nilai ketuhanan. Ia bergerak dengan cinta kasih hati nurani bukan demi kekuasaan, tetapi karena panggilan iman dan kemanusiaan yang bertumpu pada nilai-nilai ketuhanan.

Konsep Nilai kemanusiaan pula senapas dengan sila kedua yakni "Kemanusiaan yang adil dan beradab". Aktivis PMII yang menjadikan NDP sebagai kerangka berfikir tidak akan membiarkan ketidakadilan tumbuh subur dan terbiarkan. Tapi ia akan berdiri bersama yang terdzolimi alias tertindas, tanpa melihat background atau status sosial. Nilai-nilai pluralisme dan humanisme PMII mengakar kuat pada pemahaman bahwa keadilan adalah syarat mutlak peradaban.

PMII lahir dalam semangat menjaga integritas nasional menolak pula ideologi yang memecah belah bangsa. NDP secara tegas menyampaikan akan pentingnya memperjuangkan Islam yang inklusif dan nasionalisme yang utuh. Hal ini sangat sejalan dengan sila ketiga, "Persatuan Indonesia". Seorang mahasiswa aktivis PMII memahami bahwa menjaga keutuhan bangsa adalah bentuk dedikasi yang sangat ternilai. Ia tidak terjerumus pada politik sektarian, tetapi menjadikan keberagaman sebagai kekuatan dalam nilai perjuangan.

Sila keempat Pancasila yang berbunyi "Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan" juga sepaham dengan PMII yang menjunjung tinggi prinsip musyawarah, konsolidasi, Kepemimpinan kolektif dan forum-forum diskusi sebagai poros penting proses kaderisasi. Ia yang setia pula terhadap ajaran PMII dan Pancasila tidak akan mengambil keputusan secara otoriter. Ia mendengar dengan telinga toleransi, menimbang dengan penuh saksama, menghormati serta menghargai pendapat yang berbeda sebagai bentuk kedewasaan dalam berdemokrasi.

Terakhir, puncak dari pergerakan adalah menghadirkan keadilan sosial, baik dalam isu pendidikan, ketimpangan ekonomi, hak-hak minoritas, maupun keadilan ekologis. NDP mengarahkan PMII untuk berpihak pada mereka yang terpinggirkan. Sebaris pula ajaran ini kepada sila yang kelima yakni "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia." Dalam konteks ini mahasiswa PMII tidak boleh stagnasi pada sikap kritik, tapi juga harus menawarkan langkah solutif dan menjadi aktor perubahan.

Pancasila hadir sebagai kerangka kebangsaan yang kokoh dan NDP memberi arah moral dan spiritual ketika keduanya bersenyawa dalam tindakan, lahirlah generasi aktivis yang tidak hanya cerdas tapi juga bijaksana dan visioner. Penjaga Tradisi dan penjaga ajaran. Salam Pergerakan...

Ilmu dan bakti, kuberikan
Adil dan makmur ku perjuangkan
Untukmu satu tanah airku
Untukmu satu keyakinanku

Penulis: Rifky Gimnastiar, Ketua PMII Rayon Averroes, Komisariat RBA. IAI At-Taqwa Bondowoso.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close