![]() |
| Aufil Ghulam, Kader PMII Denpasar/Foto: Aktivis Autentik |
Saya rasa sekarang sudah banyak sekali informasi, bahwa selama praktik penggunaan media sosial tidak selalu berakhir baik, maka dari itu melalui tulisan ini, kita harus memberanikan diri untuk melihat kenyataan bahwa perkembangan teknologi sering kali dianggap sebagai suatu inovasi cemerlang, tanpa terlebih dahulu menelaah terhadap dampak destruktifnya, terutama bagi mereka yang tidak siap menggunakannya secara bijak.
Kita semua tahu bahwa media sosial sangat memudahkan kita dalam mencari berbagai informasi secara daring. Namun, kemudahan tersebut sering kali membuat kita lengah saat menggunakannya, sehingga sulit untuk menyaring informasi-informasi yang tidak bermanfaat, bahkan tidak bernilai bagi kehidupan kita sendiri. Akibatnya, seiring berjalannya waktu, hal ini dapat membentuk lanskap yang buruk terhadap karakter kita.
Pada akhir tahun 2024 tepat pada bulan Desember lalu, Oxford University Press (OUP) telah menemukan frasa baru yang disematkan sebagai dampak destruktif dari media sosial, seperti yang dilansir oleh mereka dengan sebutan “Brain Rot”. “Brain Rot” sendiri merupakan frasa yang dimaknai dengan “pembusukan otak”, yang kemudian didefinisikan sebagai suatu fenomena kemerosotan kondisi mental dan daya kognitif seseorang, karena disebabkan terlalu lama menghabiskan waktu, untuk melihat konten-konten instan dalam jaringan (Daring) yang berkualitas rendah, minim nilai dan tidak bermanfaat bagi kehidupan kita sendiri.
Fenomena tersebut saya rasa sudah sering terjadi di kehidupan sekitar kita, aktivitas dengan gawai yang menjadi pemicu bagi pembusukan otak relatif bermacam-macam, seperti tiada hentinya menggulir media sosial (Scrolling), pindah berkala dari media sosial ke media sosial lainnya, dan bermain game online, yang mana semua kegiatan itu dilakukan secara kompulsif, terlebih lagi hanya semata untuk mencari hiburan dan menyia-nyiakan waktu.
Kebiasaan seperti itu membuat kita sulit terlepas dari dekapan gawai, karena pada kenyataannya seolah-olah kita hanya dibuat nyaman dengan apa yang disodorkan oleh fitur-fitur yang ada di dalamnya, motif lain dari kelalaian kita sebagai pengguna gawai ialah memiliki ketergantungan terhadap media sosial yang membuat seseorang ingin terus-menerus mengecek media sosial dan gelisah saat akan menghentikannya.
Segala kekacauan di atas saya rasa dipicu oleh kebebasan kita sendiri, kebebasan kita dalam menggunakan teknologi, tetapi yang menjadi persoalan tanpa kita sadari dan berpikir lebih jauh, justru kata bebas tersebut tidak ada artinya, dan malah menjadi mala petaka bagi diri kita sendiri, membuat diri kita terbelenggu candu oleh dekapan teknologi tersebut.
Jika kita merasa mempunyai kebebasan, lantas apakah selama ini kita memang memiliki arti sepenuhnya dari kebebasan, apakah kebebasan itu merupakan suatu hal yang sebelumnya sudah ditentukan oleh sesuatu di sekitarnya?, apakah masih ada ruang bagi kemandirian berpikir?, jika segalanya telah ditentukan oleh lingkungan, tradisi, atau bahkan otoritas tertinggi sekalipun?, dan jika manusia hanya menerima sesuatu tanpa berpikir, secara eksplisit bukankah itu suatu motif perbudakan yang lebih halus?.
Berbicara tentang kebebasan barangkali sangat erat kaitannya, dengan Filsuf asal Jerman yaitu Immanuel Kant, di dalam esainya yang dia tulis pada tahun 1784 dengan judul “what is enlightenment?, (apa itu pencerahan?)”, dia menjelaskan bagaimana pencerahan itu terjadi, bagi Kant pencerahan adalah kondisi dimana manusia dapat keluar dari ketidakdewasaan yang ia ciptakan sendiri, sedangkan ketidakdewasaan adalah suatu ketakutan untuk berpikir secara mandiri, yang mana arah pola berpikir seseorang masih bergantung kepada dunia eksternalnya.
“Sapere aude!”, artinya “Beranilah berpikir sendiri!”, slogan ini merupakan suatu seruan terhadap kebodohan seseorang atau suatu sistem yang ia ciptakan sendiri, bagi Kant ketidakdewasaan bukan dikarenakan kurangnya kompetensi berpikir, melainkan ketidakdewasaan adalah ketakutan untuk berpikir sendiri.
Sudah sangat jelas sekali terkait dengan apa yang dipaparkan di atas, tentang beberapa dampak dari media sosial lalu korelasinya dengan teori pencerahan Immanuel Kant, bahwa dalam duduk perkara ini, ketidakdewasaan yang dimaksudkan sekarang adalah ketakutan manusia untuk tidak eksis dalam media sosial, dan terus mengikuti arus di dalamnya, yang mana pada akhirnya tanpa tersadar telah terjebak dalam dampak destruktif dari media sosial. Jadi bagaimana pada akhirnya kita itu setidaknya dapat menyadari bahwa, ternyata selama ini dari kemajuan dan kecanggihan teknologi tersebut, telah menyisihkan suatu dampak buruk yang saya rasa sangat-sangat perlu kita sadari.
Manusia yang terlalu lama berselancar dalam domain teknologi, apalagi sangat memiliki ketergantungan terhadap teknologi, cenderung kehilangan eksistensinya dan kebebasannya sebagai manusia yang sebenarnya. Seperti yang kita tahu bahwa manusia dengan akalnya yang dapat melalukan sesuatu atas kehendak dan pertimbangannya, dan tidak terlepas dari pertanggungjawaban.
Jika kita tidak memiliki kompetensi untuk berpikir kritis, tentu saja bukanlah barang yang mudah untuk keluar dan menyadari, akan genangan algoritma media sosial yang selama ini menjadi benang merah atas duduk perkara ini, maka dari itu kita harus menyadari bahwa terdapat beberapa aspek dalam teknologi yang membuat manusia selalu ingin tumbuh berkembang di media sosial sehingga melupakan kehidupannya sebagai manusia sesungguhnya, manusia yang memiliki kemandirian berpikir dan menjadi pelaku utama atas tindakan moralnya.
.png)
0 Komentar