![]() |
| Dikotomi Sains dan Popularitas: Mengapa Orang Terkenal Lebih Didengar Daripada Orang Berilmu/Foto: Aktivis Autentik |
Fenomena ini mencerminkan apa yang bisa kita sebut sebagai “dikotomi antara sains dan popularitas”. Dua dunia yang seharusnya bisa saling mendukung, kini justru terasa seperti dua kutub yang saling berjauhan.
Di media sosial, siapa yang paling cepat menyebar pengaruh? Bukan ilmuwan dengan gelar akademik panjang, tetapi influencer dengan jutaan pengikut. Mereka bisa memengaruhi cara berpikir, cara berpakaian, bahkan pola konsumsi masyarakat hanya dengan satu unggahan. Padahal, isi pesannya belum tentu benar secara ilmiah. Sementara itu, banyak akademisi atau pakar yang suaranya tenggelam karena tidak punya “panggung”.
Ini bukan berarti para ilmuwan kurang kompeten, melainkan karena algoritma dan selera publik hari ini lebih menyukai kemasan dibanding substansi. Publik lebih tertarik pada siapa yang menyampaikan pesan, bukan pada kebenaran pesan itu sendiri. Akibatnya, banyak informasi sesat atau dangkal yang viral, sementara pengetahuan yang dalam dan valid justru terpinggirkan.
Dampaknya tentu tidak bisa dianggap remeh. Ketika popularitas menjadi sumber otoritas, maka kebenaran bisa tergeser oleh pendapat pribadi. Kita mulai melihat tren di mana keputusan diambil bukan karena alasan rasional, tetapi karena tekanan publik yang terbentuk oleh figur-figur populer.
Namun, bukan berarti hal ini tidak bisa diatasi. Justru tantangan ini membuka peluang bagi para ilmuwan dan pemikir kritis untuk lebih aktif menyuarakan ilmunya di ruang publik. Perlu ada upaya untuk menjembatani dunia akademik dengan dunia digital. Menulis dengan bahasa yang lebih ramah, berbicara melalui medium yang akrab bagi masyarakat, dan membangun kredibilitas di tengah lautan informasi adalah langkah-langkah yang perlu diambil.
Karena sejatinya, ilmu tetaplah pondasi kemajuan. Popularitas bisa menciptakan gelombang, tapi dengan ilmulah yang bisa membangun jembatan menuju masa depan.
Jadi, mari kita belajar untuk tidak hanya mendengar siapa yang paling keras suaranya, tapi juga siapa yang paling dalam pemikirannya.
Maka, sebagai masyarakat yang berpikir, kita tidak boleh sembarangan menyimpulkan sesuatu hanya karena itu viral atau diucapkan oleh figur terkenal. Kita perlu kembali memeriksa dasar-dasar keilmuan, mempertimbangkan validitas sumber, dan memberi ruang bagi suara-suara berpengetahuan yang sering kali tenggelam dalam hiruk-pikuk digital. Karena kebenaran bukan soal siapa yang paling banyak didengar, melainkan siapa yang paling dapat dipertanggungjawabkan.
Penulis: Husna Mahmudah, Aktivis Perempuan.
.jpg)
0 Komentar