Warta

Peran PMII dalam Merawat Tradisi Intelektual Kampus di Era Society 5.0

Muh. Faza Afan Rosyadi, Kader PMII Kebumen/Foto: Aktivis Autentik
Aktivis Autentik - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi kaderisasi yang berusaha mencetak generasi penerus bangsa yang berlandaskan nilai ajaran Islam Ahlusunnah Wal Jamaah An-Nahdliyyah dan menjunjung tinggi ideologi bangsa Pancasila. Sebagai organisasi kemahasiswaan, PMII mampu mencetak generasi bangsa yang dengan perangkat intelektual dan karakternya mampu untuk bersaing dalam situasi dan kondisi apapun.

Perkembangan zaman saat ini menghadapi revolusi industri 4.0 yang mereformasi secara besar-besaran aktivitas produksi dan ekonomi. Revolusi Industri ini menjadikan kemampuan teknologi sebagai alat utama dalam menjalankan aktivitasnya. Kehadiran teknologi ini, disinyalir akan menjauhkan eksistensi manusia yang sejatinya sebagai subjek sejarah. Keresahan ini yang kemudian berusaha direspon oleh pemerintah Jepang dengan konsep Society 5.0.

Dengan datangnya era digital, pada Januari 2016, Kabinet Jepang menghadirkan “Masyarakat 5.0” sebagai konsep inti dalam Rencana Dasar Iptek ke-5. Society 5.0 atau masyarakat super pintar yang digagas oleh pemerintah Jepang merupakan sebuah konsep yang mempertimbangkan aspek teknologi untuk memudahkan kehidupan manusia. Selain aspek teknologi, aspek humaniora juga diterapkan agar ada keseimbangan dalam penerapan teknologi tersebut. Society 5.0 adalah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Konsep ini lahir karena perkembangan revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi menurunkan peran manusia. Melalui masyarakat 5.0 diharapkan dapat menjadi kearifan baru yang dapat meningkatkan kapasitas manusia untuk membuka peluang bagi kemanusiaan.

Tulisan ini akan memaparkan perkembangan sekaligus dampak yang tercipta oleh hadirnya konsep society 5.0. Harapannya melalui tulisan ini adalah hadirnya inovasi organisasi yang dilaksanakan melalui kerja-kerja organisasi yang mampu beradaptasi dengan revolusi kehidupan masyarakat yang tengah berkembang ini. PMII sebagai organisasi berbasis mahasiswa yang setiap aktivitasnya tidak mungkin terlepas dari dunia akademik, diharapkan mampu mencetak generasi penerus bangsa kita yang setiap tingkah lakunya dalam bermasyarakat dan bernegara berlandaskan kecakapan intelektual. Tak lain agar keseimbangan tetap terjaga di tengah-tengah perkembangan zaman ini.

Pada bulan November 2011, Pemerintah Federal Jerman merilis “Rencana Aksi 2020 Strategi Teknologi Tinggi untuk Jerman” (Kelompok Kerja Industri 4.0 2013), yang menguraikan inisiatif strategis teknologi tinggi yang disebut Industri 4.0. Visi ini mendahului Society 5.0, seperti ang diusulkan dalam Rencana Dasar Sains dan Teknologi 2016, selama 5 tahun. Bagian ini menguraikan visi industri baru yang dirangkum oleh Industri 4.0. Ini juga membandingkan Industri 4.0 dengan Society 5.0 sebagai sarana untuk lebih memperjelas yang terakhir.

Perkembangan yang berjalan dengan cepat ini, kemudian melahirkan era digitalisasi. Era ini memfokuskan seluruh aktivitas manusia agar dapat dijalankan dengan cepat dan efektif melalui alat teknologi digital. Berkat kemajuan teknologi informasi yang semakin mapan beberapa dekade terakhir ini, berdampak pada perubahan budaya masyarakat, dari taraf modernist society menuju masyarakat postmodernism. Semua berjalan seakan sedang menuju kemajuan yang tidak terbatas.

Masyarakat kita, khususnya kalangan mahasiswa yang lekat dengan aktivitas-aktivitas penelitian yang kental dengan tradisi intelektual pun terkena imbas dari transformasi sosial ini. Sebagian besar aktivitas masyarakat kita hari ini sudah bergeser dari tradisi konvensional menuju dunia digital. Kenyataan ini juga berpengaruh pada aktivitas kita sebagai mahasiswa. Kita tidak bisa memungkiri, selain teknologi digital memudahkan kita dalam beraktivitas, ternyata kita pun tidak boleh menutup mata bahwa imbas negatif yang dihasilkannya pun sudah tampak benderang bisa kita lihat dan rasakan.

Ketika populasi digital native ini mengarahkan mata ke layar telepon genggam daripada ke lingkungan fisik, imperatif-imperatif dunia digital mulai menjadi aturan harian. Sikap seorang pun berubah. Wajah yang seharusnya terangkat berhadapan dengan wajah lain sekarang menunduk sibuk menatap layar gawai untuk merasa bebas dari lingkungan fisik. Citra-citra yang selalu berubah yang dipancarkan dari layar gawai semakin digdaya untuk mengendalikan dan terus menerus mempengaruhi perilaku sosial kita. Digital Native tanpa sadar menawarkan dirinya untuk dikendalikan oleh teknologi. Pikiran yang terkendalikan akan melemahkan kita dalam membedakan mana kebenaran dan mana yang dianggap tidak benar. Kebenaran di era ini, hanya soal siapa yang berhasil menyebarkan kontennya menjadi FYP.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita mampu berinteraksi dengan piranti non biologis yang kita anggap paling mengerti perasaan kita. Kondisi ini memberi tantangan berpikir yang tidaklah mudah. Pertanyaan yang cukup menggelisahkan adalah bilamana semua komunikasi kita berpindah ke dunia digital dan kontak langsung dianggap sesuatu yang aneh, lalu masih adakah yang disebut masyarakat? Masih mungkin bebaskah manusia, jika mesin super cerdas itu menentukan tindakannya? Kita tidak tahu, namun yang jelas komunikasi konvensional saat ini sudah dipastikan berakhir, dan mau tidak mau situasi ini merubah besar-besaran perilaku sosial yang di dalamnya ada aktivitas intelektual bagi mahasiswa.

Sebagai mahasiswa, sekaligus anggota/kader PMII, kita terikat dengan fungsi agent of change, agent of social control. Kenyataan perilaku sosial yang berjalan saat ini, tentu disinyalir akan menyerang tradisi intelektual mahasiswa. Era post-truth yang dilahirkan oleh post-modern menunjukkan bahwa fakta objektif akhirnya kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik, dibandingkan fakta yang lahir dari emosional dan kepercayaan pribadi yang ditransfer oleh mata setelah melihat postingan melalui gawai. Sejarawan, Timothy snyder mengatakan bahwa era post-truth adalah pra-fasisme, saat kita menyerahkan kekuasaan kepada mereka para pemilik kuasa untuk menciptakan kebenaran lain yang menggantikannya melalui postingan yang dibungkus dengan semenarik mungkin.

Fakta bahwa tradisi intelektual di lingkungan kampus kian meredup, tidak dapat kita pungkiri. Sebab masyarakat digital sangatlah hypertext dalam menyerap informasi dari social media, dan itu pula yang tengah dialami oleh mahasiswa. Akhirnya, kita akan kehilangan institusi kebenaran berdasarkan fakta objektif dan argumentatif yang relevan, dan hasil akhirnya adalah kesadaran kita (mahasiswa) cenderung menganggap bahwa kebenaran hanya sampai pada kubangan abstraksi dan alam fiksi yang pragmatis. Dalam dunia intelektual, hal ini tentu merupakan bagian dari bencana yang harus segera ditangani.

Eka cita yang digagas oleh PMII harus terus berhembus dalam setiap kepala anggota/kader PMII. Napas ini harus senantiasa berhembus, sebab napas itu (Eka Cita PMII) akan menghidupi kualitas kehidupan yang akan datang. Manusia yang Ulul Albab akan senantiasa menyalurkan ide-ide dan gagasan secara inovatif dan kreatif kepada civitas akademika. Ruang-ruang komunikasi harus tetap terawat, tentu dengan mengedepankan inovasi serta berkolaborasi dengan teknologi secara seimbang harus dibangun di lingkungan akademik dan juga peradaban kaderisasi kita. Sehingga ke depan, klaim bahwa PMII telah gagal mengawal zaman akan sedikit mudah kita jawab dengan pola kerja organisasi yang kita gagas dengan inovatif.

Tulisan ini hanyalah sebagian kecil dari kompleksnya kegelisahan yang disebabkan oleh perkembangan zaman saat ini. Dampak sosial yang terjadi karena perkembangan teknologi ini, perlu diupayakan dengan salah satunya adalah merawat tradisi intelektual di lingkungan akademik. Upaya ini sangat membutuhkan aksi kolektif. Pertama sekali yang harus dilakukan adalah meningkatkan kesadaran yang holistik. Di sinilah peran pemberdayaan organisasi baik internal maupun eksternal kampus sebagai ruang kolaborasi, yang diharapkan akan mampu menciptakan iklim intelektualitas yang baik di dalam lingkungan akademik.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya, bahwa yang membedakan manusia dengan kera adalah masalah gagasan dan kerja sama. Jika seribu gorila dikumpulkan di tengah lapangan yang luas, mereka hanya akan ricuh tak karuan. Namun seribu manusia yang berakal dan berbudi, jika dikumpulkan di tengah lapangan yang luas, tentu akan berbeda hasilnya. Mereka barangkali akan berpikir dan berkomunikasi untuk saling bertanya hal apa yang akan mereka lakukan. Jika gorila akan membunuh musuhnya dengan otot. Maka manusia akan membunuh musuhnya bisa dengan mesin dan nuklir. (Harari, 2017)

Referensi:

  • Rofiqo Hani, Indrajit Eko, Guru Milenial dan Tantangan Society 5,0, (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2021)
  • Harari, Y. N, Sapiens, (Jakarta: PT. Gramedia, 2017)
  • Hardiman, Budi. F, Aku Klik maka Aku Ada: Manusia dalam Revolusi Digital, (Yogyakarta: PT. Kanisius, 2021)
  • Snyder, T. (2021,1.9). Essay The American Abyss. Retrieved from The New York Times Magazine: https://www.nytimes.com/2021/01/09/magazine/trump-coup.html

Penulis: Muh. Faza Afan Rosyadi, Kader PMII Kebumen.

0 Komentar

Cari Sesuatu di Sini

Close