![]() |
| Lutfi Hidayatul A, Pegiat Literasi dan Kader Muda NU Bondowoso. (Foto: Aktivis Autentik) |
Kaderisasi adalah napas. Jika napas itu tersengal, maka tubuh organisasi sedang dalam masalah besar. Esai ini bukan sekadar keluh kesah, melainkan sebuah catatan kritis atas fenomena "kekeringan" sosiologis dan intelektual yang sedang melanda pola pembibitan kader kita.
Logika Zaman yang Berubah
Dahulu, mahasiswa datang ke PMII dengan dahaga intelektual yang luar biasa. Masuk PMII berarti masuk ke dalam ruang gelap yang diterangi oleh lilin-lilin diskusi filsafat, teologi pembebasan, dan analisis sosial. Tanah saat itu sangat basah oleh semangat perlawanan terhadap otoritarianisme. Kaderisasi formal seperti Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) menjadi sakramen suci yang mengubah kesadaran naif menjadi kesadaran kritis.
Namun, tanah tempat kita berpijak sekarang telah berubah teksturnya. Kita sedang menghadapi generasi Z dan Alpha yang tumbuh di bawah naungan algoritma. Tanah ini menjadi "kering" bukan karena tidak ada air, melainkan karena airnya telah terserap oleh layar gawai. Budaya instan, pragmatisme karier, dan depolitisasi mahasiswa menjadi tantangan yang membuat benih pergerakan sulit berkecambah.
Mahasiswa hari ini lebih khawatir tentang skor LinkedIn daripada skor analisis dialektika. Mereka lebih cemas tentang portofolio magang daripada pemetaan konflik agraria. Dalam kondisi tanah yang mengering seperti ini, PMII tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama yang manual dan monoton.
Jebakan Formalisme dan Romantisme Masa Lalu
Kritik paling mendasar dalam kaderisasi PMII hari ini adalah terjebaknya kita pada formalisme. Kita seringkali merasa telah sukses melakukan kaderisasi hanya karena angka peserta MAPABA atau Pelatihan Kader Dasar (PKD) mencapai ratusan orang. Padahal, kuantitas tanpa kualitas adalah ilusi statistik.
Kita terlalu sibuk mengurus administrasi sertifikat, namun abai terhadap apa yang terjadi di kepala dan hati kader setelah pelatihan usai. Kaderisasi dianggap selesai ketika seremoni penutupan dilaksanakan. Akibatnya, kita melahirkan banyak "anggota", tetapi sedikit "kader". Anggota hanya mengisi absensi, sedangkan kader adalah mereka yang bergerak karena keyakinan nilai.
Selain itu, PMII seringkali terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita bangga menceritakan heroisme tahun '66 atau '98, namun gagap menjawab tantangan krisis iklim, ketimpangan ekonomi digital, atau ancaman privasi data di masa kini. Narasi pergerakan kita seringkali terdengar seperti rekaman piringan hitam yang usang di telinga mahasiswa modern yang lebih akrab dengan isu-isu global yang kontemporer.
Intelektualitas: Nutrisi yang Hilang
Tanah yang kering membutuhkan nutrisi. Dalam pergerakan, nutrisi itu adalah diskusi dan bacaan. Sayangnya, kita menyaksikan penurunan drastis dalam tradisi literasi di tingkatan komisariat maupun rayon. Diskusi-diskusi kita lebih banyak didominasi oleh perbincangan mengenai "siapa dapat posisi apa" di level struktur, daripada "bagaimana membedah pemikiran Gus Dur" atau "sejauh mana relevansi Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dalam etika kecerdasan buatan".
NDP, yang seharusnya menjadi kompas moral dan intelektual, seringkali hanya dihafalkan sebagai syarat kelulusan kaderisasi, bukan diinternalisasi sebagai cara pandang hidup. Tanpa nutrisi intelektual yang kuat, kader PMII akan mudah terseret arus pragmatisme politik. Mereka akan menjadi "sekrup-sekrup" kecil dalam mesin kekuasaan, bukan menjadi penggerak perubahan.
Menuju Kaderisasi yang Presisi: Solusi untuk Tanah yang Kering
Untuk kembali membasahi tanah pergerakan yang kering, PMII perlu melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi pola kaderisasi:
- Kaderisasi Berbasis Minat dan Bakat (Kaderisasi Presisi): Kita tidak bisa lagi memaksa semua kader menjadi politisi. PMII harus menyediakan ruang bagi mereka yang ingin menjadi teknokrat, jurnalis, seniman, hingga ahli teknologi informasi. Kaderisasi harus mampu memfasilitasi keragaman potensi tanpa menghilangkan jati diri sebagai Ahlussunnah Wal Jamaah.
- Digitalisasi Pergerakan secara Substansial: Menggunakan media sosial bukan hanya tentang mengunggah foto kegiatan, melainkan tentang bagaimana memproduksi konten ideologis yang mampu menyaingi narasi radikalisme atau liberalisme ekstrem di ruang digital. PMII harus menjadi produsen pengetahuan di internet.
- Rekontekstualisasi NDP: Kita harus berani menarik nilai-nilai dalam NDP (Tauhid, Hubungan manusia dengan Tuhan, Alam, dan Sesama) ke dalam isu-isu kontemporer. Bagaimana perspektif Islam pergerakan terhadap kedaulatan pangan? Bagaimana sikap kita terhadap diskriminasi gender di tempat kerja? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab secara tuntas dalam kurikulum kaderisasi.
- Memperkuat Basis di Akar Rumput: Kaderisasi terbaik adalah keterlibatan langsung. Jangan biarkan kader hanya berdiskusi di ruangan ber-AC atau di sudut-sudut kampus. Ajak mereka ke desa-desa, temui buruh yang terpinggirkan, dan dampingi masyarakat yang terdampak kebijakan tidak adil. Di sanalah benih pergerakan akan menemukan tanah yang subur untuk tumbuh.
Harapan di Ujung Lelah
Menyemai benih di tanah yang kering memang melelahkan. Ia membutuhkan kesabaran yang ekstra, inovasi yang tiada henti, dan ketulusan yang mendalam. PMII tidak boleh menyerah pada keadaan.
Jika hari ini kita merasa tanah pergerakan mulai gersang, barangkali itu adalah kode dari alam agar kita menggali lebih dalam, mencari mata air baru, dan berhenti menyiramkan air dengan pola yang lama. Kaderisasi bukan sekadar mencetak pengikut, melainkan upaya menjaga agar api idealisme tetap menyala di tengah badai pragmatisme.
Benih itu masih ada. Potensi itu masih melimpah. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa setiap inci tanah di PMII kembali basah oleh keringat perjuangan dan air mata keikhlasan. Hanya dengan begitu, kita bisa melihat pohon pergerakan kembali rimbun, menaungi bangsa ini dari terik ketidakadilan.
Tangan Terkepal dan Maju ke Muka!
Penulis: Lutfi Hidayatul A, Pegiat Literasi dan Kader Muda NU Bondowoso.
.jpg)
0 Komentar